Tidak Cocok CERAIKAN; Semudah Itukah? - Bicara Penting

Latest

logo

Tidak Cocok CERAIKAN; Semudah Itukah?

Tidak Cocok CERAIKAN; Semudah Itukah?

Ainal Mardhiah, S.Ag. M.Ag adalah Dosen Tetap Fakultas Tarbiyah Dan Keguruan UIN Ar Raniry Banda Aceh 

Oleh: Ainal Mardhiah, S.Ag. M.Ag*)

SERAMBINEWS.COM - Begitu fenomena di masyarakat, dan di banyak pemberitaan media sosial, tentang perceraian.  Bagi laki-laki bercerai tidak membawa pengaruh apapun, tinggal cari lain begitu katanya. Namun bagi perempuan tentu membawa pengaruh buruk secara fisik dan mental.

Pengaruh lainnya bagi perempuan, harus mengurus anak seorang diri,  mencari nafkah sendiri untuk anak-anaknya, dan anak akan kehilangan kasih sayang seorang ayah yang sangat berharga, akibat ego dan kesalahan orang tuanya.

Anak akan berkata " APA SALAH DIRIKU?"

Pernikahan adalah menyatukan dua pribadi yang berbeda, dua karakter yang berbeda, menyatukan dua orang dengan kehidupan yang berbeda, dengan pola pendidikan yang berbeda, Kalau TIDAK COCOK KOK BISA MENIKAH mungkin begitu pertanyaan,  bukankah ia nampak dari awal perkenalan, COCOK atau TIDAK?

Ketika seorang laki-laki dan perempuan sudah mengambil kesimpulan, sepakat untuk menikah itu bermakna SUDAH ada keCOCOKan, apalagi sudah ada ungkapan cinta dikedua belah pihak. Artinya sudah saling  mencintai, SUDAH COCOK.

Apalagi, Ketika niat baik itu, sudah disampaikan kepada kedua orang tua  masing-masing, berlanjut kedua keluarga besar  melakukan musyawarah, ketika semua anggota keluarga sudah setuju untuk menikahkan keduanya, itu bermakna SUDAH COCOK.

Baca juga: Kisah Hidup Nur Aini, Mahasiswi Cantik yang Tak Malu Bekerja Sebagai Buruh Angkut Semen

Selanjutnya setelah kedua belah pihak sudah sepakat, keluarga besar sudah setuju, dan mulai mengurus segala keperluan administrasi untuk melaksanakan pernikahan,  itu bermakna SUDAH COCOK.

Pada hari yang ditentukan dan disepakati bersama kedua  belah pihak,  akad nikah pun di lakukan, wali perempuan mengatakan "Saya Nikahkan Anak Saya (Adek Saya)...."  laki-laki menjawab " Saya Terima Nikah....".  Ini bermakna SUDAH COCOK.

TIDAK COCOK, TIDAK MENIKAH. SUDAH MENIKAH,  HARUS BERASAHA MENJAGA, KARENA ITU HARTA YANG PALING BERHARGA, BERUPA KELUARGA.

Lalu dimana duduk masalahnya, sampai keluar kata kata "TIDAK COCOK, KITA CERAI", menurut saya ini masalahnya:

Pertama,  Rendahnya Kualitas Keimanan.

Ini dapat dilihat,  ketika ada masalah,  bagaimana seorang suami itu bersikap, apakah menempatkan dirinya sebagai penguasa, orang yang dibutuhkan,  sehingga bisa semena mena terhadap anak istrinya, atau menempatkan diri sebagai ayah atau suami yang harus melindungi istri dan anaknya.

Baca juga: Nathalie Holscher Melahirkan Bayi Laki-Laki, Nama Anak Sule Adalah Adzam Ardiansyah Sutisna

Ketika mendapat masalah kemana seorang suami itu lari  meminta pertolongan siang malam, kepada Allah, dan mengajak istri dan anak bersama.  atau ke tempat lain, kemudian pulang ke rumah,  memarahi istri dan anaknya

Begitu juga istri,  ketika ada masalah,  bagaimana ia bersikap,  apa ia bersabar, dan menambah kedekatannya dengan Allah SWT lewat ibadahnya, sambil berdoa siang malam,  agar Allah menjaga rumah tangganya.

Atau kesana kemari, meninggalkan kewajiban sebagai ibu, sibuk mencari orang untuk menceritakan masalah dalam keluarganya, jika demikian Ini tidak baik jadinya.

Namun Ini menjadi baik di lakukan untuk  meringankan beban pikiran dan perasaan, dengan catatan tetap menjaga kewajiban sebagai ibu, dan orang yang menjadi tempat curhatnya adalah orang yang  adil,  ta'at, amanah,  agar rahasia rumah tangganya aman bersamanya bukan malah menimbulkan masalah baru.

Dengan demikian akan selamat sebuah rumah tangga,  jika mendapati masalah, keduanya saling berbaik sangka, berlomba-lomba meminta maaf kepada pasangan jika masalah yang  terjadi antara mereka  berdua, lalu masing-masing menyampaikan duduk masalahnya.  

Baca juga: Wanita Muda Buat Laporan Palsu Jadi Korban Jambret, Ternyata Gelapkan Uang Perusahaan Puluhan Juta

Jika masalahnya bersumber dari orang lain yang diluar rumah, keduanya saling menguatkan,  saling membantu,  senantiasa menjaga kedekatan dengan Allah SWT agar semua masalah selesai dengan baik dan mudah. Dari sini dapat kita lihat kualitas keimanan seseorang.

Kedua,  Rendahnya Kualitas Ilmu tentang Berumah Tangga.

Ini artinya,  kualitas ilmu tentang konsep berumah tangga itu, masih minim pada kedua calon mempelai. Dipahami oleh mempelai laki laki bahwa berkeluarga itu, menikah itu, untuk  bersenang senang saja,  setelah menikah nanti ada yang melayani,  ada yang mengurus,  ada yang memasak, menyiapkan makan, mencuci baju, dan lainnya meski itu benar.

Sementara dipihak mempelai perempuan terbayang setelah menikah,  kemana mana dah ada teman, dah ada tempat curhat, dah ada teman ngobrol, yang memberi perhatian,  kasih sayang,  dan nafkah lahir bathin.

Kemudian dalam  perjalanannya mereka mendapati tidak seperti yang mereka bayangkan,  sehingga timbul pertengkaran yang kemudian tidak dikumunikasikan dengan baik, dengan cinta seperti yang pernah dilakukan sebelum menikah, tidak berusaha saling memahami,  tidak berbaik sangka, tidak berlomba lomba meminta maaf,  lama kelamaan menjadi bom waktu yang bernama "CERAI"

Baca juga: Berapa Penghasilan Jadi YouTuber? Ada yang Dapat Miliaran Sebulan, Begini Cara Cek Perhitungannya

Atau yang didapati kemudian dalam berumah tangga, tidak ada lagi waktu  berdua, tidak ada lagi kata-kata mesra, sanjungan, ucapan terima kasih,  tidak ada waktu istirahat,  yang di dapati adalah hari hari yang melelahkan dengan tugas dan kewajiban yang tidak habis  habisnya, tidak saling menyirami dengan perhatian dan kasih sayang,  menjadikan rumah tangga gersang, bosan,  jenuh, lalu  CERAI.

Harusnya dipahami juga  pernikahan adalah bersatunya dua orang untuk meneruskan perjuangan yang tadinya sendiri  sendiri,  sekarang dalam perjuangannya menjadi berdua, berdua berjuang mencari rezeki,  berdua berjuang melahirkan generasi penerus Islam, berdua berjuang mengurus anak, berjuang membesarkan anak, berjuang mendidik anak, berjuang menuju SYURGA, berjuangan mempertahankan keutuhan rumah tangga,   ditengah berbagai  permasalahan hidup yang tentu saja akan menimpa siapa saja.

Karena itu dalam berumah tangga perlu terus belajar, perlu terus berusaha menjaga tugas dan kewajiban masing-masing. Perlu saling membantu, saling menguatkan, saling mendukung jika salah satunya sedang lemah.

Sebagai seorang suami terus berusaha menjaga tugasnya, memberi nafkah dan membahagiakan keluarga sesuai kemampuannya, sebagaimana disebutkan dalam ayat berikut ini:

"... Dan kewajiban ayah menanggung nafkah dan pakaian mereka dengan cara yang patut. ..." (Q.S. Al-Baqarah: 233)

Sebagai Istri juga berusaha menjaga tugasnya, ta'at kepada suami, mengurus suami dan anak-anak, dan bersama suami mendidik anak, sebagaimana disebutkan dalam ayat berikut ini:

"...Dan ibu-ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, bagi yang ingin menyusui secara sempurna..."(QS. Al Baqarah: 233).



Sumber: aceh.tribunnews.com

Disclaimer: Images, articles or videos that exist on the web sometimes come from various sources of other media. Copyright is fully owned by the source.