Seuntai Rindu untuk sang Revolusioner - Bicara Penting

Latest

logo

Seuntai Rindu untuk sang Revolusioner

Seuntai Rindu untuk sang Revolusioner

OLEH NAURATUL ISLAMI, Mahasiswi Prodi Pendidikan Bahasa Arab Pascasarjana UIN Ar-Raniry dan alumnus IAI Al-Aziziyah Samalanga, melaporkan dari Banda Aceh

Tidak terasa bulan maulid sudah memasuki purnama ketiga terhitung sejak Rabiul Awal lalu.

Bulan-bulan yang memiliki banyak keberkahan.

Umat Islam di seluruh tempat sangat berbahagia dengan kedatangan bulan ini.

Di mana mereka akan meningkatkan rasa syukurnya terhadap kelahiran sang Rahmatan lil ‘alamin.

Meskipun pada hakikatnya hal tersebut bisa dilakukan setiap waktu.

Dan juga bentuk dari kerinduan terhadap seseorang yang selalu mencintai dan mengkhawatirkan keadaan umatnya hingga akhir hayat.

Keutamaan merayakan maulid Ada begitu banyak keutaman yang kita dapatkan di saat memperingati hari kelahiran Rasulullah saw, seperti yang termaktub dalam kitab An-Ni’matul Kubra ‘alal ‘Alami fi Maulidi Sayyidi Walidi Adam.

Di antara keutamaan yang disebutkan adalah akan menjadi sahabat Abu Bakar di akhirat kelak.

Juga dikumpulkan dengan golongan pertama dari kalangan anbiya, mendapat banyak keberkahan, ketenangan hidup, memperoleh kebahagiaan dengan penuh iman, dan akan dimasukkan ke dalam surga tanpa hisab.

Sebagai penguat ukhuwah Bagi masyarakat Aceh, kenduri maulid diagendakan hingga Jumadil Akhir nanti.

Ada istilah molod away, molod teungoh, dan juga molod akhir.

Acara maulidan ini sendiri merupakan salah satu cara masyarakat menyambut dan memeriahkan bulan kelahiran Rasulullah.

Bukan hanya sekadar acara makan-minum belaka.

Namun, sarat makna yang memiliki begitu banyak hikmahnya.

Perayaan maulidurrasul ini dibolehkan karena mengandung nilai taqarrub illallah (mendekatkan diri kepada Allah).

Hal itu disebabkan oleh adanya amalan-amalan yang membuat kita menjadi semakin dekat dan taat kepada Allah.

Ada pembacaan Al-Qur’an, lantunan selawat, dhiyaul lami’, kisah lika-liku perjuangan Rasul, dan juga biasanya ditutup dengan mendengarkan mau’izhah singkat dari penceramah.

Dalam perayaan maulid di setiap daerah di Aceh memiliki ciri khas tersendiri dalam menghidangkan bu molod (nasi maulid).

Di beberapa tempat di lintas barat-selatan mereka punya adat idang meulapeh, yaitu hidangan maulidnya dibuat berlapis-lapis dan dilapisi dengan kain untuk diantar ke meunasah.

Dalam rangka memperingati kelahiran Rasulullah, anggota Ikatan Keluarga Bandar Dua (IKB) menggelar kenduri maulid di Taman Ratu Safiatuddin beberapa waktu lalu.

Prof Dr Darni Daud MA yang pernah menjabat rektor Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh dipercayakan untuk berbicara.

“Salah satu hikmah menyelenggarakan acara maulid yaitu mempererat ukhuwah, saudara, dan teman yang sudah lama terpisah bisa kembali saling sapa dengan menghadiri acara ini.

Ini merupakan sebuah kebahagiaan yang tak terkira,” ungkapnya.

Sebagaimana yang kita lihat, jejak rekam sejarah tentang sikap Rasulullah sangat banyak yang harus kita teladani.

Kegigihan Nabi Muhammad saw dalam menyatukan umat Islam dulu, itu salah satunya.

Kita selaku umat yang begitu dicintai sudah seharusnya tetap mempertahankan ukhuwah tersebut.

Sebagai ungkapan rindu kita sebagai umat kepada seseorang yang sangat berpengaruh dalam kehidupan, juga sebagai ungkapan terima kasih, meskipun kita tahu tidak akan sebanding dengan perjuangannya, kita bisa terus membaca berbagai macam bentuk selawat.

Saya teringat pesan putra sulung ulama karismatik Aceh, Al-Mukarram Abu H Hasanoel Bashry yang dikenal dengan Abu MUDI.

“Salah satu cara kita menyambut bulan maulid adalah dengan memperbanyak selawat,” pesan Abi H Zahrul Fuadi Mubarrak yang kerap disapa dengan Abi MUDI pada pengajian Tastafi Muslimah di Pidie Jaya.



Sumber: aceh.tribunnews.com

Disclaimer: Images, articles or videos that exist on the web sometimes come from various sources of other media. Copyright is fully owned by the source.