Remaja Milenial, Sehat dan Bebas Anemia - Bicara Penting

Latest

logo

Remaja Milenial, Sehat dan Bebas Anemia

Remaja Milenial, Sehat dan Bebas Anemia

Mira Delvia Basri, Mahasiswa Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran universitas Syiah Kuala Aceh 

Oleh : Mira Delvia Basri *)

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 25 tahun 2014, remaja didefinisikan sebagai penduduk berusia pada rentang usia 10 hingga 18 tahun.

Remaja sebagai penerus dan calon pemimpin bangsa di masa depan. Remaja berhak mendapatkan kesempatan untuk tumbuh dan berkembang secara optimal, salah satunya terlindung dari berbagai masalah kesehatan.

Komplek permasalahan pada remaja tentunya memerlukan penanganan yang serius

Selama masa remaja seorang akan mengalami pertumbuhan fisik yang sangat pesat.

Pada remaja putri, puncak pertumbuhan sekitar 10 – 14 tahun, proses biologis pada masa pubertas ditandai dengan pertumbuhan tinggi badan, berat badan, dan adanya perubahan seksual pada remaja putri.

Yaitu menstruasi yang terjadi setiap bulannya sehingga menyebabkan kehilangan banyak darah dan disebut juga dengan anemia.

Baca juga: Kilas Balik Kejuaraan Dunia BWF 2019 – Ahsan/Hendra Segel Gelar Juara usai Tumbangkan Hoki/Kobayashi

Anemia  atau kurang darah adalah suatu kondisi tubuh dimana kadar Hemoglobin (Hb) dalam sel darah merah lebih rendah dari pada standar yang seharusnya.

Anemia pada remaja merupakan salah satu masalah gizi yang perlu mendapat perhatian khusus.

Menurut National Insitute of Health (NIH), anemia merupakan sebuah kondisi ketika tubuh tidak memiliki jumlah sel darah merah cukup.

Penyebab terjadinya kekurangan sel darah merah ini dapat diakibatkan karena kekurangan zat besi dan, vitamin, ataupun penyakit kronis.

Berdasarkan data Riskesdas 2018, prevalensi anemia pada remaja sebesar 32% artinya 3- 4  dari 10 remaja menderita anemia.

Hal ini di sebabkan salah satunya karena perilaku atau gaya hidup remaja yang berkaitan dengan asupan gizi yang tidak baik, seperti tidak sarapan pagi, kurang konsumsi sayur dan buah serta tidak minum tamblet tambah darah.

Tanda- tanda seorang remaja menderita anemia adalah ditandai dengan 5L yaitu lemah, letih, lesu, lelah dan lunglai.

Jika remaja putri mengalami anemia sangat besar dampaknya pada kesehatan dan prestasi di sekolah dan bisa menurunkan daya tahan tubuh.

Baca juga: Kementerian PUPR Anggarkan Rp 40 Miliar Pelebaran Jembatan Pulau Kayu Abdya

Sehingga mudah terkena infeksi, menurunkan daya berpikir dan nantinya akan beresiko anemia saat menjadi ibu hamil yang dapat menyebabkan pertumbuhan dan perkembangan janinya yang tidak optimal.

Serta berpotensi menyebabkan komplikasi kehamilan dan persalinan serta kematian ibu dan anak dan yang tidak kalah pentingnya bisa menyebabkan stunting.

 Di masa pandemi covid-19 saat ini kebijakan “Belajar dari rumah” menjadi suatu  kendala tersendiri bagi  remaja Karena keterbatasan dalam mengakses layanan kesehatan khususnya kebutuhan akan tablet tambah darah.

Sebelumnya tablet tambah darah bisa di dapatkan baik di sekolah melalui kegiatan UKS dan pelayanan kesehatan di Puskesmas PKPR atau Posyandu Remaja.

Solusi mencegah Anemia



Sumber: aceh.tribunnews.com

Disclaimer: Images, articles or videos that exist on the web sometimes come from various sources of other media. Copyright is fully owned by the source.