Nostalgia Tinggal di Rumoh Aceh - Bicara Penting

Latest

logo

Nostalgia Tinggal di Rumoh Aceh

Nostalgia Tinggal di Rumoh Aceh

OLEH CHAIRUL BARIAH, Wakil Rektor II Universitas Islam Kebangsaan Indonesia (Uniki), Dosen Fakutas Ekonomi Universitas Almuslim, dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen, melaporkan dari Bireuen

INDONESIA memiliki dua provinsi yang istimewa, yaitu Yogyakarta dan Aceh.

Pemberian status istimewa untuk Yogyakarta oleh Presiden Soekarno karena besarnya peran kesultanan dalam mendukung republik pada masa itu.

Yogya juga pernah menjadi ibu kota Negara Indonesia dan Provinsi Yogyakarta menggunakan sistem kerajaan.

Pengangkatan gubernurnya pun dilakukan langsung oleh presiden.

Saat ini, Kepala Pemerintahan Daerah Istimewa Yogyakarta dijabat oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Yogyakarta memiliki otonomi khusus untuk mengatur sistem pemerintahan sendiri yang dikelola mirip dengan kerajaan tempo dulu.

Provinsi kedua yang istimewa adalah Aceh.

Sejak diresmikan sebagai daerah istimewa tahun 1959 oleh Perdana Menteri Republik Indonesia, Hardi, dalam bidang agama, peradatan, dan pendidikan tidak berjalan dengan baik

Kemudian berdasarkan Undang-Undang Nomor 44 Tahun 1999 keistimewaa Aceh diperkuat kembali meliputi penyelenggaraan kehidupan beragama, adat istiadat, pendidikan, dan peran ulama dalam pengambilan kebijakan publik.

Perpaduan ragam budaya Kerajaan Melayu dan Timur Tengah ditambah dengan penerapan syariat Islam serta qanum yang mendukung terlaksananya kegiatan tersebut membuat sebutan Aceh sebagai daerah istimewa semakin dikenal di dalam dan luar negeri.

Aceh juga dikenal dengan sebutan Serambi Makkah karena menjadi gerbang masuknya penyebaran agama Islam pertama di Indonesia yang dibawa oleh para pedagang dari Gujarat dan Timur Tengah.

Kerajaan Samudera Pasai adalah kerajaan Islam pertama dan terbesar di Asia Tenggara pada masa itu.

Kini, Aceh memiliki 18 kabupaten dan 5 kota, dengan luas wilayah ± 57.955,00 km2. Setiap kabupaten/kota mempunyai ciri khas adat istiadat dalam budaya masingmasing.

Di antaranya budaya dalam adat meminang, perkawinan, menyambut tamu, memperingati hari-hari besar Islam, dan berbagai kegiatan budaya lainnya. Setiap kabupaten/ kota juga memiliki rumah adat dengan ciri khas tersendiri.

Untuk melihat secara langsung contoh dari masing-masing rumah adat tersebut kita dapat mengunjungi Taman Sultanah Safiatuddin di Banda Aceh.

Persisnya di belakang Kantor Gubernur Aceh.

Salah satu kabupaten yang memiliki rumah adat dengan ciri khas adalah Bireuen. Berdasarkan hasil Musyawarah Besar Majelis Adat Aceh (MAA) Kabupaten Bireuen tahun 2014

Ditetapkan bahwa rumah Teungku Chik Awe Geutah sebagai contoh rumah adat Kabupaten Bireuen, sebagaimana yang disampaikan oleh Drs Jailani MM, Ketua MAA Bireuen.

Ciri khas dari rumah adat Bireuen di antaranya adalah berbentuk panggung, bangunannya disangga oleh 24 tiang kayu bulat pilihan terbaik, memiliki ruang seuramoe (ruang tamu)

Seurambat, rumoh inong (kamar tidur), seuramoe likot (belakang), dan ruang dapur dengan ciri khas memasak menggunakan kayu.

Tinggi rumah ± 3,5 meter. Ruang dasar atau di bawah rumah panggung berfungsi sebagai ruang tamu umum, ada sebuah jingki (alat penumpuk padi/tepung) tradisional yang terbuat dari pohon kayu pilihan.

Ciri lainnya ada sebuah guci tempat air untuk mencuci kaki ketika penghuni maupun tamu naik ke atas rumah panggung.

Seiring dengan perkembangan zaman dan teknologi keberadaan rumah adat Aceh di perkampungan, khususnya di 17 kecamatan dalam Kabupaten Bireuen perlahan sudah mulai hilang, karena masyarakat lebih memilih rumah dengan bentuk modern atau minimalis.

Salah satu penyebabnya adalah sulitnya mendapatkan kayu dengan kualitas terbaik agar bangunan dapat bertahan lama, di samping terbatasnya ahli seni ukir kayu untuk bahan rumoh (rumah) Aceh.

Menurut seorang tukang yang membuat rumah Aceh, rumah Aceh itu rumit dan sulit untuk dikerjakan dengan cepat karena butuh kehatian- hatian.

Apalagi dalam membangunnya tidak menggunakan paku. Kalaupun ada hanya sedikit pada bagianbagian tertentu saja.

Selebihnya menggunakan pasak kayu yang dinamakan baji.

Sebagai contoh untuk membuat lantai rumah panggung agar rapi dan rata maka kayu tiang dan papan harus rapat. Ongkos pembuatan rumah adat ini juga tergolong mahal jika dibandingkan dengan rumah biasa atau rumah modern.

Sebagai bentuk kepedulian dan turut serta dalam melestarikan rumah adat Aceh, salah seorang tokoh Pendidikan, Dr Amiruddin Idris SE MSi telah mendirikan bangunan dengan nama Balai Kebangsaan berbentuk rumah Aceh di tengah- tengah gedung modern di Kompleks Universitas Islam Kebangsaan Indonesia (Uniki) Bireuen.



Sumber: aceh.tribunnews.com

Disclaimer: Images, articles or videos that exist on the web sometimes come from various sources of other media. Copyright is fully owned by the source.