Model Pencegahan Wabah dalam Islam - Bicara Penting

Latest

logo

Model Pencegahan Wabah dalam Islam

Model Pencegahan Wabah dalam Islam

Ketua Komisi B MPU Banda Aceh yang juga dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN AR-Raniry Banda Aceh, Tgk Bustamam Usman SHI MA 

SERAMBINEWS.COM - Satu tahun belakangan hingga sekarang ini, masyarakat di seluruh dunia, termasuk kita di Indonesia, sedang menghadapi wabah penyakit berupa Virus Corona atau Covid1-9.

Berdasarkan laporan data Worldometers.com per Kamis (2/12/2021), tidak kurang dari 263,7 juta jiwa masyarakat di dunia ini telah terinfeksi Covid-19 dan 5,2 juta lainnya meninggal dunia.

Sementara di Indonesia, per Rabu (1/12/2021), sebanyak 4,2 juta orang terjangkit Covid-19 dan 143 ribu orang meninggal dunia.

Penularan wabah virus Covid-19 ini diprediksi masih akan terus berlangsung dan belum ada yang memastikan kapan virus yang menyerang sistem pernapasan ini akan berakhir.

“Oleh sebab itu mari kita senantiasa berdoa kepada Allah SWT semoga wabah Covid-19 ini segera berakhir sehingga kita bisa beraktivitas normal kembali seperti sediakala,” kata Tgk Bustamam Usman, SHI, MA., Ketua Komisi B MPU Banda Aceh.

Baca juga: Milad GAM hanya Doa Bersama dan Kenduri

Peristiwa wabah penyakit seperti yang sedang di alami sekarang ini, katanya, dalam sejarah kehidupan manusia sebenarnya bukanlah hal yang baru.

Sejarah mencatat, pada tahun 1720 telah terjadi wabah penyakit yang disebut dengan The Great Plague of Marseille ( Wabah Besar Marseille) yang membunuh kira-kira 30 persen penduduk di Marseille, Perancis.

Penyakit ini disebarkan melalui kutu tikus yang membawa bakteri yang disebut dengan Bakteri Yersinia Pestis yang awal mula dibawa dari kapal bernama Grand Sain Antonie yang bersandar di kota pelabuhan Perancis.

Pada tahun 1818 , terjadi pula wabah penyakit kolera yang pertama kali muncul di Delta Sungai Gangga di Jassore, India yang dipicu oleh beras yang terkontaminasi.

Wabah ini cepat menyebar ke sebagian besar India, Myanmar dan Srilangka hingga ke Indonesia.

Wabah kolera ini menyebabkan kurang lebih 100 ribu orang meninggal dunia. Pandemi kolera ini baru berakhir pada musim dingin ekstrim pada tahun 1823-1824.

Lebih mengejutkan lagi, pada tahun 1920 telah mewabah pula penyakit yang disebut dengan Spanish Flu ( Flu Spanyol), virus ini sangat berbahaya karena telah menyebabkan kurang lebih 500 juta jiwa terjangkiti dan menyebabkan kurang lebih 100 juta jiwa meninggal dunia.

Tgk Bustamam Usman yang juga dosen di Fakultas Syariah dan Hukum UIN AR-Raniry Banda Aceh ini menyebut, di masa Nabi SAW juga pernah terjadi wabah penyakit, yang salah satunya adalah penyakit Thaun.

Baca juga: Rektor Unsam Langsa: Bencana Masalah dan Tanggung Jawab Bersama

Penyakit Thaun ini tercatat dalam sebuah hadits, dimana Rasulullah bersabda: “Jika kalian mendengar penyakit Thaun mewabah di suatu daerah, maka jangan masuk ke daerah itu. Apabila kalian berada di daerah itu, jangan hengkang (lari) dari Thaun”.

Selain saat zaman Nabi, penyakit Thaun juga terjadi di zaman Umar bin Khattab. Kala itu, Umar bin Kattab menahan diri memasuki negeri Syam, karena di daerah tersebut tengah terjadi wabah penyakit thaun.

Alumni Dayah Istiqamatuddin Darul Muarrif Lam Ateuk Aceh Besar ini mengutip sebuah buku yang berjudul “Rahasia Sehat Ala Rasulullah SAW” karya Nabhil Thawil.

Disebutkan dalam buku tersebut, penyakit Thaun ini adalah penyakit menular yang bisa menyebabkan kematian.

 “Wabah ini pertama kali terjadi pada tikus dan menyebar kepada manusia. Melalui darah tikus yang berada di kutu anjing itu tersebut menular ke manusia melalui kulit dan darah. Adapun masa inkubasi penyakit thaun ini antara dua sampai dua belas hari,” kata Tgk Bustamam.

Ia melanjutkan, para penderitanya harus menjalani karantina dan menjalani pengobatan, sesuai apa yang dilakukan di zaman Rasulullah maupun Umar bin khattab.

Lalu bagaimana Islam memandang musibah, baik musibah alam atau musibah non alam sebagaimana wabah penyakit atau pandemi?

Dalam Islam semua yang dialami manusia berupa musibah adalah merupakan ketentuan Allah SWT untuk menguji kesabaran manusia.

Baca juga: Arab Saudi Investigasi Epidemi Kasus Pertama Covid-19 Varian Omicron

Dalam Alqur’an surat Al-Baqarah (2) ayat 155 Allah SWT berfirman : “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan, dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar “

“Semua yang terjadi di muka bumi ini merupakan ketentuan Allah SWT untuk menunjukkan kepada kita kebesaran-Nya dan supaya kita sebagai manusia tidak merasa angkuh dan sombong karena dengan musibah itu manusia menjadi tidak ada artinya dihadapan Allah SWT” ujarnya.

Sebelum masa Pandemi Covid-19 boleh jadi kebanyakan manusia merasa jumawa, semua bisa dilakukan, semua hal bisa dikendalikan dengan menggunakan teknologi hasil temuannya sendiri.

Namun begitu Allah SWT menurunkan musibah berupa virus yang sangat menular dan mematikan, manusia baru sadar bahwa mereka sebenarnya tidak ada artinya dibandingkan kekuasaan dan kekuatan Allah SWT.

Tgk Bustamam mengtakan, mungkin inilah salah satu hikmah datangnya pandemi, yaitu mengingatkan kita semua bahwa manusia adalah makhluk yang lemah dan serba terbatas sehingga tidak sepatutnya menyombongkan diri dan melupakan dari beribadah kepada Allah SWT.

Meskipun sebagai manusia kita dianjurkan untuk menerima segala musibah itu dengan penuh ketabahan dan kesabaran, kita dituntut pula untuk berikhtiar mencegah penularan dan penyebarannya seraya berupaya untuk menemukan obat untuk menyembuhkannya.

Hal ini dikarenakan salah satu diantara tujuan utama syariat adalah melindungi jiwa manusia dari hal-hal yang dapat merusak dan membahayakannya.

Perintah ini juga disampaikan oleh Rasulullah SAW dalam haditsnya: “Dan larilah dari penyakit lepra, sebagaimana engkau lari dari kejaran singa” (HR.Bukhari).

Dalam riwayat lain, Rasulullah juga memerintahkan untuk menjauhi suatu negeri yang terdampak wabah, begitu pula sebaliknya orang yang berada di negeri yang terkena wabah itu tidak boleh keluar dari wilayahnya.

Baca juga: Undang-Undang Inggris Perpanjang Pembatasan Covid-19 Omicron Sampai Maret 2022



Sumber: aceh.tribunnews.com

Disclaimer: Images, articles or videos that exist on the web sometimes come from various sources of other media. Copyright is fully owned by the source.