Meneladani Air - Bicara Penting

Latest

logo

Meneladani Air

Meneladani Air

Jabal Ali Husin Sab, Ketua Umum DKC Garda Bangsa Kota Banda Aceh 

Oleh: Jabal Ali Husin Sab*

Air hanyalah air sebagai suatu zat yang memenuhi lebih dari setengah permukaan bumi.

Air yang keluar dari dalam tanah disebut mata air. Mata air ini biasanya berada di puncak gunung yang kemudian alirannya disebut sungai.

Puncaknya adalah hulu dan mengalir terus ke hilir hingga sampai ke muara, tempat bertemunya aliran sungai yang airnya tawar dengan laut yang airnya asin.

Air begitu esensial kegunannya dalam kehidupan manusia hingga manusia memberi makna terhadapnya. Maka lahir istilah yang biasa kita dengar, air adalah sumber kehidupan.

Air keluar dari perut bumi hingga ke permukaan tanah. Seolah bumi yang ibarat ibu bagi kehidupan ingin melimpahkan kasih sayangnya ke segala penjuru.

Air yang apabila dteguk terasa sejuk dan tawar namun tersimpan sedikit rasa manis yang segar. Kesegaran ini terasa mengalir dalam tarikan napas.

Di tengah hutan, air yang keluar dari mata air mengalir melalui  sungai yang diminum oleh hewan-hewan. Di padang pasir yang kering, terdapat sumber air yang disebut oase.

Tempat para musafir melepas dahaga dan mengambil perbekalan air secukupnya untuk mereka bawa bersama di dalam perjalanan yang cukup menantang.

Ada kalanya di musim tertentu, ikan salmon yang hidup di laut berenang menembusi muara menuju hilir sungai. Mereka berenang melawan derasnya arus untuk sampai ke hulu sungai untuk bertelur.

Bersusah-payah melompati air terjun. Suatu hal yang tidak lumrah bagi ikan-ikan lain. Laut dan aliran sungai bagi salmon adalah bagian dari perjalanan hidup mereka.

Apabila kita melihat sejarah peradaban kuno, maka banyak kita temui bahwa peradaban kuno berada di sekitar pinggiran sungai. Peradaban Mesir hidup di sekitar sungai Nil.

Peradaban Mesopotamia berada pada lembah antara sungai Eufrat dan Tigris. Mohenjo-Daro berada di lembah sungai Indus, di wilayah Pakistan sekarang.

Sementara tidak jauh dari situ, India merupakan peradaban timur yang mana kebudayaannya terkait erat dengan sungai Gangga.

Manusia kemudian mulai menciptakan teknologi sederhana. Keberadaan sungai dimanfaatkan dengan penemuan teknologi irigasi.

Air dari sungai dialirkan ke lahan-lahan pertanian. Hasilnya budaya pertanian menjadi lebih berkembang. Hasil panen melimpah hingga menjadi komoditas perdagangan yang diperdagangkan ke wilayah-wilayah lain.

Maka berkembanglah peradaban yang asal-muasalnya bermula dari ketersediaan air.

Peristiwa ini terjadi lebih ribuan tahun yang lalu sebelum manusia mengenal penanggalan masehi yang merujuk pada kelahiran Nabi Isa.

Kini, dua ribu tahun lebih setelah masehi, ketika manusia sudah bisa menciptakan besi yang terbang menjulang di angkasa, teknologi informasi yang memudahkan tersiarnya berita dalam hitungan detik.

Ketergantungan kita terhadap air sebagaimana ribuan tahun yang lalu sama sekali tak berubah.

Kehidupan dunia modern yang digerakkan oleh perdagangan yang transaksinya telah menggunakan cara-cara digital, pengiriman komoditas perdagangan masih bergantung dari transportasi laut.

Dalam setahun, jutaan ton komoditas perdagangan dibawa dari satu benua ke benua lain melewati Samudera Pasifik, Hindia hingga ke Samudera Atlantik. Lagi-lagi semuanya bergantung dari keberadaan air.

Secara global, manusia di seluruh dunia menghabiskan empat triliun meter kubik air di setiap tahunnya. Tidak ada jam yang terlewatkan di dunia, melainkan pada jam tersebut ada yang tengah meneguk air untuk menghilangkan dahaga.

Bahkan bisa dipastikan bahwa secanggih apapun kemajuan peradaban manusia, tidak ada suatu temuan baru yang mampu menggantikan air.

Eksploitasi

Interaksi manusia dengan air yang terjadi secara terus-menerus dan ketergantungan kehidupan terhadapnya telah menimbulkan kekhawatiran terhadap masalah kelangkaan air.

Kerusakan alam seperti penebangan hutan, pencemaran laut dan tanah menjadi masalah yang banyak dibahas akhir-akhir ini.

Namun sebelum air musnah dari muka bumi, yang konsekuensinya juga berarti musnahnya kehidupan, apakah manusia pernah belajar dari air?

Air sebagai sumber kehidupan mempunyai makna bahwa dengan keberadaannya, air menjadi sebab bagi keberlangsungan kehidupan.

Pada manfaat yang minimum, manusia, hewan dan tumbuhan tetap bisa hidup normal hingga kematian menjemput yang lazimnya disebabkann oleh penyakit atau faktor penuaan.



Sumber: aceh.tribunnews.com

Disclaimer: Images, articles or videos that exist on the web sometimes come from various sources of other media. Copyright is fully owned by the source.