Kasih Ibu Seluas Samudera - Bicara Penting

Latest

logo

Kasih Ibu Seluas Samudera

Kasih Ibu Seluas Samudera

Oleh Dr. H. Agustin Hanafi, Lc & Hayail Umroh, S. Psi, M. Si, masing-masing sebagai Ketua Prodi S2 Hukum Keluarga UIN Ar-Raniry dan Ibu Rumah Tangga

Dalam sebuah lirik lagu Iwan Fals “Ibuku sayang masih terus berjalan walau tapak kaki penuh darah, penuh nanah”.

Memang kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya tak terbantahkan, tak ada kasih sayang seseorang melebihi kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya.

Ia rela mengorbankan nyawanya demi anaknya, mengandungnya lebih kurang Sembilan bulan dengan mengalami kesulitan yang amat sangat, kesusahan yang tiada tara, rasa payah yang tidak terperi, kondisi fisik dan jalannya semakin lemah, terkadang kondisi seperti ini tanpa ada suami dan keluarga di sisinya, sehingga semuanya harus dilakukan sendiri.

Terkadang seorang ibu tidak tidur sama sekali atau sedang terlelap dengan mimpi indahnya tetapi harus buru-buru bangun karena mendengar tangisan bayinya, di tengah menikmati lezatnya makanan tetapi harus berhenti demi menjaga kesehatan si bayi, tak kenal panasnya terik mata hari dan dinginnya air hujan.

Bayinya digendong, didekap, dipeluk erat agar terhindar dari cuaca dingin dan panas.

Bahkan dalam kematiannya sering kita lihat seorang ibu masih memeluk bayinya karena ingin menyelamatkannya dari musibah timbunan longsor, erupsi gunung merapi, kebakaran, dan lain-lain.

Ketika melahirkan, ibu berjuang antara hidup dan mati, sosok yang pertama mendoakan kebaikan dan kesuksesan anak-anaknya, orang pertama yang memakaikan pakaian, memberikan asi, sungguh benar sebuah ungkapan “kasih sayang seorang ibu sepanjang jalan, seluas samudera dan sedalam lautan.

Maka tidak berlebihan kalau ajaran Islam memprioritaskan bakti kepada ibu, sebelum bakti kepada bapak.

“Ibumu, ibumu, ibumu kemudian bapakmu”.

Demikian sabda Rasul SAW karena Alquran mengisayaratkan alasannya, antara lain Q.S.Luqman: 31.

Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun.

Di Indonesia, untuk mengenang jasa seorang ibu, pemerintah menetapkan tanggal 22 Desember sebagai “hari ibu” yang tujuannya untuk mengenang kiprah dan konstribusi para ibu-ibu.

Driver Ladyjek Ini Dapat Kejutan Ulang Tahun ‘Terimakasih Ibu Hebat’
Driver Ladyjek Ini Dapat Kejutan Ulang Tahun ‘Terimakasih Ibu Hebat’ (Twitter EsTehLeci @NengRider_)

Jasa ibu memang lebih besar dari jasa ayah, terkadang seorang ibu sebagai single-parent harus banting tulang dan bekerja keras demi menghidupi si buah hati, rela berkorban dengan mempertahankan statusnya sebagai single parent demi kemaslahatan anaknya, harus berpisah dengan suami, mengalah terhadap hak-haknya demi masa depan anaknya.

Begitulah pengorbanan seorang ibu, maka sungguh aneh jika seseorang sedang marah, atau bersumpah serapah, lalu menyebut hal-hal yang melekat pada bagian tubuh ibu, padahal dia dilahirkan dari rahim seorang ibu.

Berbakti kepada orang tua

Jasa seorang ibu sungguh luar biasa, meskipun dalam hadis disebutkan prioritas pertama adalah ibu tetapi bapak juga harus dihargai dan dihormati sebagaimana disebutkan dalam Alquran surat Luqman ayat 14.

Intinya tidak boleh macam-macam kepada orang tua karena keridhaan Allah terletak pada keridhaan orang tua, dan murka Allah terdapat pada murka kedua orang tua.

Mengenai kewajiban berbakti ini, Alquran menggambarkan kewajiban anak kepada ibu bapaknya dengan menggunakan kata ihsana, yaitu mencakup segala sesuatu yang menggembirakan dan disenangi, memperlakukannya lebih baik dari perlakuannya terhadap kita, memberi lebih banyak daripada yang harus kita beri, dan mengambil lebih sedikit dari yang seharusnya kita ambil.

Untuk itu, kita harus bersikap sopan dan santun kepada kedua orang tua dalam ucapan dan perbuatan serta mencukupi kebutuhan-kebutuhan mereka yang sah dan wajar sesuai dengan kemampuan kita (sebagai anak) meskipun status kita telah berkeluarga sekalipun.

Seorang anak dituntut agar berbicara kepada kedua orang tuanya dengan kata-kata yang oleh Alquran dinamai “karima” (al-Isra`: 23).

Pakar bahasa menyatakan bahwa bila kata “karim” dikaitkan dengan akhlak terhadap orang lain, maka ia bermakna pemaafan.

Ini berarti bahwa segala macam yang baik dan mulia harus menghiasi setiap kata yang diucapkan kepada kedua orang tuamu, bukan saja yang sifatnya benar dan tepat, bukan juga hanya yang sesuai dengan adat kebiasaan yang baik dalam satu masyarakat, tetapi juga harus yang terbaik dan termulia.

Kalaupun seandainya orang tua melakukan suatu “kesalahan” terhadap anak, maka kesalahan itu harus dianggap tidak ada, dimaafkan karena tidak ada orang tua yang bermaksud buruk terhadap anaknya.

Maka janganlah ada perasaan dendam atas kekeliruan yang pernah dibuat oleh orang tua walaupun mungkin ketika mendidik ada pilih kasih terhadap anak-anaknya lalu bersikap dendam dengan tidak mempedulikan nasibnya, bahkan tega memasukkannya ke pantai sosial dengan alasan karena telah memperlakukan anaknya kurang baik di masa kecil.

Kemudian sebagai bakti seorang anak, memohonkan rahmat ilahi yang tidak bertepi itu kepada keduanya, agar memperoleh lebih banyak dari yang kita peroleh, membalas budi mereka melebihi budi mereka kepada kita sebagaimana pengajaran ilahi “Ya Allah rahmatilah mereka berdua (ibu-bapak) dikarenakan mereka telah mendidik aku di waktu kecil”.

Di sisi lain, terkait dengan bakti terhadap ibu terdapat sebuah hadis Rasulullah SAW bahwa “surga itu berada di bawah telapak kaki ibu”.

Sebenarnya hadis ini tidak dipahami sebatas harfiah sebagaimana yang dilakukan oleh orang dewasa hari ini seperti mencuci kaki ibunya sebagai syimbol dan formalitas ketika hari ibu tiba.

Sebenarnya makna hadis ini betapa tingginya kedudukan seorang ibu, dan seorang anak harus berbakti kepada kedua orang tuanya tanpa tercabut kemerdekaan dan kebebasan pribadi atau rumah tangga atau jenis-jenis pekerjaan yang bersangkut paut dengan kepribadian anak, agama atau negaranya.

Atau bisa jadi sebuah kiasan (majazi), bahwa seorang anak yang telah meminta maaf kepada ibunya secara tulus maka Insyaallah akan menjadi penghuni surga.



Sumber: aceh.tribunnews.com

Disclaimer: Images, articles or videos that exist on the web sometimes come from various sources of other media. Copyright is fully owned by the source.