Kado Akhir Tahun untuk Aceh - Bicara Penting

Latest

logo

Kado Akhir Tahun untuk Aceh

Kado Akhir Tahun untuk Aceh

Wiratmadinata 

Oleh: Dr Wiratmadinata SH MH*)

KEBETULAN, pada akhir Minggu pertama Desember tahun 2020 ini, saya melakukan perjalanan ke Kota Surabaya. Sesaat mendarat di Kota Pahlawan itu, hujan turun dengan derasnya. “Hmm, dari Aceh, Medan sampai Kota Surabaya, ternyata hujan mengguyur semua kota itu. Desember yang benar-benar sejuk dan basah.

Meskipun melakukan perjalanan akhir tahun, tetapi dua hari di Kota Surabaya bukanlah untuk liburan akhir tahun, melainkan utuk menghadiri sebuah acara yang sangat penting, dan sangat bermakna bagi Aceh, khususnya Pemerintah Aceh.

Pada Selasa 7 Desember 2021 itu, Komisis Aparatur Sipil Negara (KASN), menggelar kegiatan, berupa upacara penyerahan “Anugerah Meritokrasi”, kepada lembaga-lembaga negara, yaitu Pemerintah Propinsi, Kabupaten/Kota serta Lembaga negara setingkat kementrian secara nasional yang berhasil menerapkan tatakelola birokrasi pemerintahan yang baik, khususnya dalam manajemen ASN yang berbasis kepada “Merit System”.

Sistem Merit ini, intinya adalah sebuah pendekatan apresiatif dalam mengelola ASN berbasis kualifikasi, kompetensi, dan kinerja seara adil an wajar. Dengan menerapkan sistim dn filosofi “merit”, diharapkan terjaring birokrat yang mampu dan siap melayani rakyat secara paripuna.

Surprise! Gubernur Aceh, Ir Nova Iriansyah MT, diundang untuk menerima penghargaan “Anugerah Meritokrasi” karena telah berhasil menerapkan Merit System dalam pemerintahannya dengan kategori “sangat baik” dan “baik”.

Menariknya, KASN ternyata hanya mengundang sembilan Gubenur Kepala Daerah Provinsi se-indonesia, ditambah Provinsi tuan rumah penyelenggaraan kegiatan, Jawa Timur.

Adapun provinsi-provinsi tersebut adalah Bali, Gorontalo, Jawa Tengah, Kalimantan Timur, Kepulauan Bangka-Belitung, Sumatera Barat, Sulawesi Selatan dan tentu saja Aceh.

Dari deretan propinsi ini tampak, bahwa hanya dua propinsi dari Sumatera yang memiliki kategori “Baik”, yaitu Sumatera Utara dan Aceh. Untuk kategori “sangat baik”, hanya diperoleh tiga propinsi lain, termasuk Jawa Tengah. Antara kategori “baik” dan “sangat baik”, dibedakan pada “ketebalan” nilai-nilai hasil assesmen dari pihak KASN, yang sangat ketat.

Mungkin dapat dikatakan bahwa Anugerah Meritokrasi ini adalah “Kado Akhir Tahun”, paling manis bagi pemerintah Aceh. Bukan hanya karena soal telah berhasil terjaring sebagai propinsi dengan nilai “baik” dalam tata kelola birokrasinya, (ada begitu banyak penghargaan dan apresiasi positif yang diterima oleh Pemerintah Aceh), tapi lebih pada makna dan nilai strategisnya.

Mengapa Anugerah Meritokrasi ini sangat strategis? Karena hal ini telah menjungkirbalikkan semua asumsi serta informasi negatif yang dilakukan segelintir orang seakan-akan kinerja Pemerintah Aceh, tidak begitu baik, terutama di media sosial yang liar dan tidak terkontrol.

Tentu saja banyak kritik yang baik, komprehensif, solutif, konstruktif dan bahkan sangat membantu sebagai bahan reflleksi kedalam yang diterima Pemerintah Aceh.

Justru, kritik-kritik dari kalangan profesional yang mencerahkan dan berimbang itu, menjadi bahan kajian, sehingga dari hari ke hari, tatakelola birokrasi di Aceh semakin baik. Dan hal itu dibuktikan dengan diterimanya Anugerah Meritokrasi dari KASN tersebut.

Anugerah Meritokrasi ini juga semakin mengongkritkan statemen Wakil Presiden RI, K.H., Ma’ruf Amin, yang datang ke Aceh pada pertengahan September 2021 ke Banda Aceh.

Dalam pidatonya saat memimpin Rakor Kepala Daerah Kabupaten/Kota, di Aula Kantor Gubernur Aceh, Wapres memuji pemerintah Aceh karena telah berhasil membuktikan bahwa tatakelola birokrasinya sangat baik, dan itu dibuktikan dengan didapatkannya status WTP (Wajar Tanpa Pengecualian), sebanyak enam kali berturut-turut dari Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK-RI). Bahkan BPKRI, menyampaikan pujian secara terbuka.

Bagi saya, apresiasi dari BPK RI terkait “tatakeloka keuangan”, dan apresiasi KASN terkait “tatakelola birokrasi” telah melengkapi seluruh aspek pokok pemerintahan di Aceh.

Mengapa demikian? Karena membaiknya tatakelola keuangan dan sekaligus tatakelola birokrasi adalah kunci yang akan menjelaskan wajah pelayanan publik sebenarnya.

Sebab, jika kedua hal tersebut tidak baik maka pasti tidak ada pelayanan publik yang baik. Jadi disanalah sebenarnya letak nilai strategis pujian BPK-RI, Wapres dan KASN kepada pemerintah Aceh.

Secara relatif, hal-hal tersebut diatas menjelaskan kepada kita sebenarnya, kinerja pemerintah Aceh dalam pelayanan publik sudah “on the track”.

Membaiknya tatakelola keuangan bersamaan dengan membaiknya manajemen ASN, dilingkungan Pemerintah Aceh, ibarat kembang api terus berpendar menciptakan percikan-percikan cahaya yang semakin memeriahkan “kado akhir tahun”, yang sejuk ini.

Tentu saja, kalau aspek-aspek yang paling pokok dalam pemerintahan sudah “on the track”, umumnya akan berimbas pada kinerja pemerintahan secara keseluruh.

Itulah jawaban mengapa selama ini begitu banyak penghargaan secara sektoral dan teknis terus diperoleh dalam jumlah cukup banyak.

Boleh dikatakan, Pemerintah Aceh memiliki fenomena sangat positif terkait hal ini. (Baca opini saya sebelumnya di “Kupi Beungoh”, Harian Serambi Indonesia, 12 Desember 2020, https://aceh.tribunnews.com/2021/12/01/sebuah-legacy).

Salahsatu percikan prestasi dan kinerja baik itu datang dari bidang pariwisata. Seminggu sebelum meraih Anugerah Meritokrasi, datang kabar bahwa propinsi Aceh berhasil meraih juara umum dalam kompetisi Anugerah Pesona Indonesia (API) Tahun 2021.

Kabar baik itu disampaikan “Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Jamaluddin, dari Palembang. “Aceh berhasil meraih tujuh juara, dari 18 kategori yang dilombakan, “ katanya.

Ada tujuh kategori yang berhasil dimenangkan, yaitu;

  1. Juara 1 untuk kategori Brand Pariwisata Terbaik yaitu Banda Aceh
  2. Juara 1 Kategori Highland yaitu Sigantang Sira di Aceh Selatan
  3. Juara 3 Minuman Tradisional yaitu Kupi Khop di Aceh Barat
  4. Juara 3 Promosi Pariwisata Digital (instagram) Explore Gayo di Aceh Tengah
  5. Juara 2 Promosi Eko Wisata Ujung Tamiang di Aceh Tamiang
  6. Juara 1 Festival Pariwisata yaitu Festival Pulau Banyak di Aceh Singkil
  7. Juara 1 Destinasi Kreatif berupa Anjungan Tapak Tuan Tapa di Kabupaten Aceh Selatan.

Dalam pandangan saya, penghargaan sebagai juara umum Anugerah Pariwisata Indonesia tersebut, membuktikan bahwa kinerja dalam bidang kepariwisataan di Aceh juga sudah semakin baik.

Hasil ini tentu tidak akan mungkin di dapatkan, jika tatakelola pemerintahan kacau dan tidak baik. Apresiasi atas kinerja bidang pariwisata ini kelak diharapkan memberi kontribusi positif terhadap ekonomi aceh, khususnya ekonomi kreatif yang sedang sangat digalakkan.

Kita tahu, salahsatu sumber income yang paling mengutungkan dalam upaya mendatangkan devisa ke suatu daerah adalah bidang pariwisata.

Contoh paling klasik di dalam negeri adalah Propinsi Bali. Keunggulan propinsi ini adalah dalam hal mengelola aktivitas kebudayaan masyarakat menjadi sumber devisa.



Sumber: aceh.tribunnews.com

Disclaimer: Images, articles or videos that exist on the web sometimes come from various sources of other media. Copyright is fully owned by the source.