Jangan Berbohong pada Anak yang Akan Disuntik Vaksin seperti Sakit Digigit Semut - Bicara Penting

Latest

logo

Jangan Berbohong pada Anak yang Akan Disuntik Vaksin seperti Sakit Digigit Semut

Jangan Berbohong pada Anak yang Akan Disuntik Vaksin seperti Sakit Digigit Semut

Tenaga kesehatan menyuntikkan vaksin COVID-19 kepada warga saat vaksinasi keliling untuk warga Kelurahan Malaka Jaya di RPTRA Bunga Rampai, Jakarta, Jumat (9/7/2021). Mobil vaksinasi COVID-19 keliling diberikan untuk anak-anak dan dewasa usia 12-59 tahun. (merdeka.com/Imam Buhori)

Jakarta Tak hanya anak-anak, sebagian besar orang dewasa pun mungkin ada yang takut jarum suntik. Namun, bukan berarti ketakutannya membuat anak jadi tidak bisa mendapat vaksinasi

Apalagi jelang pemberian vaksinasi COVID-19 tahun depan, diharapkan anak Indonesia usia 6-11 tahun bisa disuntik.

Untuk menjawab kekhawatiran orangtua yang anaknya takut disuntik, Ketua Ikatan Psikologis Klinis Indonesia Wilayah DKI Jakarta, Anna Surti Ariani, S.Psi., M.Psi., Psi, mengatakan, sebaiknya orangtua tidak berbohong akan rasa sakit yang akan dialami anak.

Seperti misalnya mengatakan bahwa disuntik vaksin tidak sakit atau rasanya seperti digigit semut.

“Digigit semut itu kan sakit. Bilang aja ke anak, disuntik itu memang sedikit sakit. Tapi sakitnya sebentar kok,” kata Nina dalam acara webinar belum lama ini.

Selain itu, orangtua juga tidak perlu menakut-nakuti anak yang akan divaksinasi. Sebaliknya, gunakan kata-kata positif yang bisa meyakinkan anak. Seperti misalnya daripada mengatakan kalau tidak divaksin nanti kamu sakit dan sebagainya, lebih baik berkata,“Ibu yakin, kamu anak pemberani. Kalau takut, kamu bisa tarik napas dalam-dalam, lalu masuk ke ruangan (tempat vaksin) itu,” ujar Nina.


Tak perlu mengancam atau memaksa

Hal lainnya, lanjut Nina,  jangan mengancam anak jika ia tidak mau disuntik. “Awas kalau kamu tidak mau disuntik, jangan bilang begitu ya. Tapi sebaiknya bicarakan dengan anak, apa yang membuat ia takut dan orangtua bisa menjelaskan manfaat vaksin. Misalnya kalau dia takut, orangtua bisa bilang, vaksin itu akan membuat tubuh kebal dari virus.”

Selanjutnya, tidak memaksakan anak. Orangtua harus menghargai pendapat anak. “Kalau kamu tidak mau disuntik besok, kapan kamu disuntik? besok atau lusa? Itu kalau ada pilihan ya. Jadi kita lebih menghargai pendapat anak,” kata Nina.

Dan setelah anak disuntik vaksin, orangtua jangan mengabaikan perasaan anak. “Ya udah Alhamdulillah ya, kamu sudah divaksin. Terus kita makan apa setelah ini dan sebagainya, jangan begitu juga melainkan ajak anak berdiskusi kembali.

"Tanyakan apa yang paling membuatnya berani, atau pengalamannya tadi seperti apa, kamu paling suka ketika ngapain, dan sebagainya. Karena pengalaman tersebut bisa jadi mendebarkan baginya. Dengan mendiskusikan pengalaman ini, anak akan lebih memahami prosesnya," pungkasnya.

Infografis Anak Indonesia Usia 6-11 Tahun Siap Terima Vaksin Covid-19.

<span>Infografis Anak Indonesia Usia 6-11 Tahun Siap Terima Vaksin Covid-19. (Liputan6.com/Trieyasni)</span>
Infografis Anak Indonesia Usia 6-11 Tahun Siap Terima Vaksin Covid-19. (Liputan6.com/Trieyasni)




Sumber: www.liputan6.com

Disclaimer: Images, articles or videos that exist on the web sometimes come from various sources of other media. Copyright is fully owned by the source.