Anak dan Jasa Orangtua - Bicara Penting

Latest

logo

Anak dan Jasa Orangtua

Anak dan Jasa Orangtua

Oleh Abdul Gani Isa, Staf Pengajar Pascasarjana UIN Ar-Raniry dan Anggota MPU Aceh

Anak karunia Allah termahal, dan dambaan setiap orang tua.

Ia bisa sebagai pelipur lara, pelengkap keceriaan rumah tangga, penerus cita-cita, investasi, bahkan pelindung orang tua di saat lansia.

Orang tua tentunya mendambakan dan mengharapkan anak-anaknya kelak bisa membahagiakannya, menjadi penyejuk hati dan cendera mata.

Bila merujuk Alquran, setidaknya, ada empat macam kedudukan anak, di antaranya adalah: Pertama, anak sebagai Zinah (Perhiasan), Allah SWT berfirman yang artinya:

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu dan lebih baik untuk menjadi harapan. ” (Al Kahfi: 46).

Kedua, anak sebagai qurrata a’yun (penyejuk hati), sebagai isyarat Allah di dalam Alquran, “Dan orang-orang yang berkata:

Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.

” (Al Furqan: 74) Ketiga, anak sebagai fitnah (ujian dan cobaan), sebagaimana firman Allah SWT “Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.

” (At-Ttaghabun: 15) Keempat, anak sebagai aduwwun (musuh)

Seperti diisyaratkan Allah SWT,“Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

” ( At-Taghabun 14) Figur Orangtua Bercermin pada fenomena yang terjadi saat ini, seperti maraknya narkoba, judi online, pornografi dan pornoaksi dan isyarat Alquran seperti disebutkan di atas, perlu disikapi serius oleh pemerintah, masyarakat, terutama para orang tua.

Berangkat dari hal itu, Allah SWT mengingatkan: Qu anfusakum wa ahlikum nara, (QS.at-Tahrim : 6), yang bermakna “Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.

Khitab Allah ini, pada dasarnya ditujukan kepada orang-orang yang beriman, dimulai dengan kalimat “Ya ayyuhalladzina amanu.qu anfusakum wa ahlikum nara”.

Kata “ Qu”, adalah fi’il amr, menunjukkan “perintah”, dan setiap perintah dalam kaidah bahasa Arab menunjukkan kepada “wajib”, “al-asl fil amr lil wujub” (asal semua perintah menunjukkan kepada wajib).

Wajib dalam terma hukum Islam dimaknai dengan “berpahala bila dikerjakan dan berdosa bila ditinggalkan”.

Ibnu ‘Abbas ra, memberi komentar kalimat “Qu anfusakan wa ahlikum nara” dengan “i’malu bi ta’atillahi wattaqu ma’asillahi wa amaru ahlikum bidzikri yunjikumullahu minannar” (kerjakanlah olehmu ketaatan kepada Allah, dan hindarilah dengan sesungguhnya perbuatan maksiat dan perintahkan keluargamu mengingat-Nya, nisacaya Allah melepaskan kamu dari api neraka).

Pendapat yang sama juga diberikan Qatadah, Mujahid (Lihat Ibn Katsir, Juz.IV, 1993: 390).

Mencontoh Rasulullah SAW Menarik kita simak kembali cara Rasulullah SAW menerapkan nilai dan ajaran agama bagi pembinaan keluarga yang berbasis syariah.

Di antara banyak konsep atau cara yang beliau lakukan antara lain dijelaskan berikut ini: Pertama,, “addibu awladakum bi tsalatsati khisalin” Didiklah anakmu dengan tiga hal; (1) mampu membaca Alquran.

Alquran kitab suci umat Islam bahkan petunjuk bagi manusia (hudan linnas).

Alquran mengajak umat melakukan semua perintah dan menjauhi semua larangan-Nya.

Isinya hampir sembilan puluh persen berkisar tentang akhlaq.

Karena tidaklah berlebihan bila Rasululullah SAW disebut “khuluquhu Alquran”, akhlaq rasulullah adalah al-Qur’an.

Jadi Rasulullah adalah diibaratkan seperti Alquran berjalan.

Dan bila umat Islam tidak lagi berpegang teguh dengan Alquran dan al-Sunnah, merupakan awal berada di tepi jurang kehancuran atau berada dalam kesesatan yang nyata.

(2) Mencintai Rasulullah SA,.

Mencintai Rasulullah dengan sering bershalawat kepadanya, mengikuti contoh amaliah dan disiplin menjalankan perintah Allah seperti shalat dan lainnya.

Shalat menjadi salah satu hal penting diterapkannya di dalam keluarga, seperti sabdanya: Muru as-shabiya bis shalah idza balagha sab’a sinin, fa idza balagha ‘asyra sinin fadhribuhu ‘alaiha ( Suruhlah anak-anakmu mendirikan shalat bila berumur tujuh tahun, bila sudah beranjak sepuluh tahun (tidak mau) maka berilah sanksi kepadanya) (HR.Abu Daud, dan Turmidzi).

Konsep itu seperti digagas Rasulullah dinilai sangat penting, terlebih dalam era modern, di mana dampak dari pengaruh lingkungan sangat tidak mudah diawasi, namun bila si anak sudah disiplin dengan shalat, insya Allah dengan sendirinya bisa mengawal dirinya masing-masing sekalipun saat berada di luar rumah.



Sumber: aceh.tribunnews.com

Disclaimer: Images, articles or videos that exist on the web sometimes come from various sources of other media. Copyright is fully owned by the source.