Aceh dalam Pesona Musik Bersama ‘Oranghutan Squad’ - Bicara Penting

Latest

logo

Aceh dalam Pesona Musik Bersama ‘Oranghutan Squad’

Aceh dalam Pesona Musik Bersama ‘Oranghutan Squad’

OLEH MELINDA RAHMAWATI, Mahasiswi Pendidikan Sejarah Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, sedang mengambil Program Pertukaran Mahasiswa Merdeka di Kampus Universitas Bina Bangsa Getsempena, melaporkan dari Banda Aceh

Dua bulan sudah saya berada di Aceh.

Ketertarikan saya semakin besar terhadap segala sesuatu yang tersimpan di ‘Bumoe Aulia’ ini.

Demikian juga teman-teman saya yang mengikuti Program Pertukaran Mahasiswa Merdeka dalam kegiatan Modul Nusantara.

Sesuai dengan namanya, Modul Nusantara merupakan kegiatan spesial yang kami jalani dalam Pertukaran Mahasiswa Merdeka ini.

Kegiatan ini telah memperkenalkan kami dengan budaya Aceh yang menjadi lokasi penempatan kami.

Di sisi lain, kami pun memperkenalkan kepada segelintir masyarakat Aceh budaya yang masing-masing kami bawa dari daerah asal.

Perkenalan budaya yang dikonsentrasikan dalam satu kegiatan membuat semua kami semakin tersadar dengan beragamnya budaya Indonesia.

Kami juga semakin memahami betapa kayanya kebudayaan Aceh yang masih terjaga sejak berabad-abad silam.

Dengan saling mengenal kebudayaan yang ada, semakin terpupuk pula rasa kebangsaan kami dan kebanggaan sebagai generasi muda Indonesia.

Saya secara pribadi dan teman-teman Pertukaran Mahasiswa Merdeka telah memiliki banyak pengalaman dan pemahaman terhadap budaya Aceh yang dahulu kami hanya kenal tarian ‘ratoh jaroe’ saja.

Program Pertukaran Mahasiswa Merdeka melalui kegiatan Modul Nusantaranya ini telah meneguhkan diri kami sebagai generasi muda dan sekaligus bertanya: sudahkah kita mengenal budaya kita dan siapkah kita menjaga budaya asli kita?

Di tengah ketertarikan kami terhadap Aceh, tiba-tiba ada teman yang berbaik hati memperkenalkan kami dengan Oranghutan Squad.

Namanya memang seperti itu, meski berdasarkan KBBI, bentuk baku dari frasa oranghutan adalah orang utan.

Oranghutan Squad, sejauh yang saya cermati, hanyalah satu dari sekian banyak kelompok musisi lokal Aceh yang mengekspresikan budaya lokal melalui seni musik.

Hal terunik dari Oranghutan Squad ini adalah mereka menampilkan genre musik hip hop yang secara umum oleh masyarakat dikenal dengan pandangan buruk.

Tapi di tangan Oranghutan Squad, genre musik hip hop yang dipadukan dengan seni musik tradisional Aceh benar-benar membuat kami terpesona.

Melalui lagu “Meusyeuhu”, mereka menghadirkan Aceh dalam 12 bahasa lokal Aceh yang terdiri atas Aceh, Gayo, Gayo Lues, Singkil, Tamiang Hulu, Tamiang Hilir, Kluet, Aneuk Jamee, Alas, Simeuleu Devayan, Sumeuleu Sigulai, dan bahasa Indonesia.

Tidak hanya kekayaan bahasa, mereka juga mengenalkan 12 tokoh dan pahlawan dari masing-masing daerah tersebut yang hampir sudah tak dikenal lagi, seperti Teuku Cut Ali, Syekh Abdurrauf As-Singkily, Panglimo Rajo Lelo

Syekh Burhanuddin Ulakan, Malik Ibrahim, Aman Dimot, Teungku Banurullah, Panglime Linting, Raja Mude Sedie, Raja Pucook Sulooh, dan terakhir Sultan Iskandar Muda.

Lebih memesonal lagi, genre hip hop yang dipadukan dengan beberapa alat musik tradisional seperti seurune kalee, rapa-i, dan suling gayo membuat melodi musik yang tercipta semakin menarik.

Terakhir, dalam videoklip tersebut menampilkan tari seudati, likok pulo, pelebat, dan tari tuak kukur.

Hanya dengan lagu “Meusyeuhu” ini, kami tersadarkan akan banyaknya subetnis di Provinsi Aceh.

Dalam sesi diskusi, kami banyak mengetahui proses produksi, lama produksi lagu ini, fakta-fakta menarik dari balik layar pembuatan lagu ini hingga lokasi-lokasi syuting videoklip lagu ini.

Pusat lokasi syuting berada di Kutacane, Aceh Tenggara, tepatnya di perbukitan di bawah kaki Gunung Leuser.

Di samping di Kutacane, lokasi syuting juga tersebar di Banda Aceh, Aceh Besar, Danau Lut Tawar, dan sepanjang perjalanan menuju Kutacane itu sendiri.

Busnior sebagai salah satu personel dari Oranghutan Squad menginformasikan bahwa “produksi lagu ‘Meusyeuhu’ ini berlangsung sekitar empat bulan lamanya, terhitung dari penetapan tema, workshop lirik, penentuan nada, workshop lokasi syuting, hingga pengeditan.

Lirik lagunya dibuat secara terpisah dan baru digabungkan saat proses workshop lirik lagu berlangsung.

Tentu menjadi tantangan tersendiri karena bahasa yang dibawakan dalam lirik tersebut tidak semua berasal dari daerah kelahiran para personel ini.

“Jadi, kami harus melakukan kroscek kembali ke teman atau langsung kepada para orang yang dituakan di masing-masing daerah tersebut,” ujar Busnior.



Sumber: aceh.tribunnews.com

Disclaimer: Images, articles or videos that exist on the web sometimes come from various sources of other media. Copyright is fully owned by the source.