Wakaf  Investasi Amal Abadi - Bicara Penting

Latest

logo

Wakaf  Investasi Amal Abadi

Wakaf  Investasi Amal Abadi

Oleh Abdul Gani Isa, Ketua BWI Perwakilan Aceh/Anggota MPU Aceh

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai, dan apa saja yang kamu nafkahkan Maka Sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (QS.Ali Imran:192)

Empat Term

Setidaknya ada empat term dalam Islam berkaitan dengan kepemilikan (harta), yaitu zakat, infak, sedekah, dan wakaf. Keempat term ini memiliki kesamaan namun juga ada perbedaannya. Zakat disebutkan Alquran di banyak tempat – lebih 32 kali – wajib menunaikannya bagi yang aghniya’ bila memenuhi dua hal (a) haul dan (b) sampai nisab, baik benda tetap maupun benda bergerak.

Di samping itu zakat di didistribusikan habis kepada delapan asnaf (QS at-Taubah: 60), tidak boleh disimpan. Infak merupakan harta yang diberikan seorang muslim dalam jumlah yang tidak ditentukan menurut kemampuannya baik ia kaya maupun miskin, dan diperuntukkan untuk kepentingan manusia secara umum.

Sementara sedekah mengeluarkan harta dengan ikhlas untuk kepentingan agama, baik berupa materi maupun immateri, juga termasuk untuk alam lingkungan secara luas – tumbuh-tumbuhan dan binatang. Sedangkan wakaf adalah pemberian harta benda baik yang bersifat tidak bergerak maupun benda bergerak dari si wakif untuk selama-lamanya dan manfaat (hasilnya) digunakan sesuai ikrar si wakif.

Makna

Kata wakaf berasal dari bahasa Arab yaitu waqafa yang berarti menahan, menghentikan, atau mengekang. Menurut istilah, wakaf adalah menahan harta yang dapat diambil manfaatnya tanpa menghabiskan atau meneruskan bendanya (‘ainnya) dan digunakan untuk kebaikan.

Sementara itu, defenisi wakaf dalam terminologi fikih adalah penahanan pemilikan atas hartanya yang dapat dimanfaatkan tanpa mengubah substansi dari segala bentuk tindakan atasnya dan mengalihkan manfaat harta tersebut untuk salah satu ibadah pendekatan diri kepada Allah dengan niat mencari ridha-Nya.

Menurut Undang-undang Wakaf Nomor 41 Tahun 2004, wakaf adalah perbuatan hukum wakif untuk memisahkan dan atau menyerahkan sebagian harta benda miliknya untuk dimanfaatkan selamanya dan untuk jangka waktu tertentu sesuai dengan kepentingannya guna keperluan ibadah dan atau kesejahteraan umum menurut syariah. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), wakaf adalah benda bergerak atau tidak bergerak yang disediakan untuk kepentingan umum (Islam) sebagai pemberian yang ikhlas. Bisa juga artinya hadiah atau pemberian yang bersifat suci.

Sejarah

Dilihat dari aspek historis, wakaf bukanlah hal baru, tetapi sudah dipraktekkan sejak masa Rasulullah SAW, para sahabat hingga era modern sekarang ini., dan terus dikembangkan tidak hanya terbatas pada benda tetap seperti untuk masjid, madrasah, makam, rumah untuk tahfidh, dan lainnya, tetapi juga wakaf benda bergerak seperti wakaf uang, surat-surat berharga, logam mulia, hak intelektual, sarana trasportasi (kenderaan) dan lannya.

Tercatat beberapa contoh dapat disebutkan antara lain, Pertama, Khadijah Isteri Rasulullah SAW, yang sangat beliau cintai, sejarah menyebutkan “Janda Bangsawan era itu, bahwa semua hartanya habis – tidak ada yang tersisa - disumbangkan demi dakwah dan kepentingan risalah Allah yang dilakukan oleh suaminya Muhammad SAW.

Kedua, Umar Ibnu Khattab ra, mewakafkafkan tanah strategis di Khaibar, saat menyampaikan kepada Rasulullah SAW, Rasul mengatakan “ Insyi’ta habasta asluha…”(jika engkau kehendaki tahanlah pokok benda wakaf itu (‘ainnya), dan sedekahkan hasil (manfaatnya).

Dengan demikian sangat popular sampai hari ini wakaf itu memiliki status yang sangat kuat, sekalipun memberikan maliah hukumnya sunat. “la yuba’u wala yuhabu wala yuratsu”, benda wakaf itu tidak boleh dijual, tidak boleh dihibahkan dan tidak boleh diwariskan. Kita masih ingat sabda Rasulullah SAW, riwayat Bukhari Muslim: “Apabila (seseorang) anak Adam meninggal dunia maka putuslah segala amalnya, kecuali tiga perkara (a) sedekah jariah (itulah wakaf), (b) ilmu yang bermanfaat, dan (c) anak yang salih selalu berdoa kepada kedua orangtuanya.

Ketiga, tercatat pula sahabat yang bernama Abu Talhah, saat ayat 92 Ali Imran sampai ke telinganya,seperti penulis kutip di awal tulisan ini, ia ingin cepat-cepat menemui Rasulullah untuk menyerahkan kebun kurmanya yang terletak di depan masjid Nabawi. “Ya Rasululah saya memiliki kebun kurma yang sangat subur berdekatan dengan masjid nabi, hari ini saya akan menyerahkan semuanya untuk Rasulullah agar dimanfaatkan seluruhnya di jalan Allah.”

Rasulullah dengan sangat senang mengatakan “bakhin,bakhin, bakhin” baik sekali, baik sekali, baik sekali (wahai) Abu Talhah. Selanjutnya Rasulullah mengatakan: “apakah ada di antara keluargamu yang masih membutuhkan harta ini, bila ada utamakan dulu untuk ahli keluargamua.

Keempat, Utsman bin Affan mewakafkan Sumur Raumah, yang dibelinya dari seorang Yahudi, yang berawal dari krisisnya air di Medinah. Sumur Raumah dapat dimanfaatkan oleh siapa saja, termasuk orang Yahudi pemilik lamanya.

 Kelima, pada tahun 1809 M, Habib Bugag mewakafkan rumah di Mekkah, yang cikal bakal terus dijaga dengan baik sampai saat ini, disebut dengan “ Baitul Asyi” , manfaatnya dirasakan oleh jamaah haji asal Aceh (sebagai salah satu penerima manfaat/mauquf alaih).

Macamnya manfaatnya



Sumber: aceh.tribunnews.com

Disclaimer: Images, articles or videos that exist on the web sometimes come from various sources of other media. Copyright is fully owned by the source.