Semangat Patriotik dan Upaya Menyelamatkan Aceh yang Sedang Tidak Baik-baik Saja - Bicara Penting

Latest

logo

Semangat Patriotik dan Upaya Menyelamatkan Aceh yang Sedang Tidak Baik-baik Saja

Semangat Patriotik dan Upaya Menyelamatkan Aceh yang Sedang Tidak Baik-baik Saja

Jabal Ali Husin Sab, Ketua Umum DKC Garda Bangsa Kota Banda Aceh 

Oleh: Jabal Ali Husin Sab*

"Saya dengan berani menyatakan bahwa patriotisme bukanlah ledakan emosi yang singkat dan hiruk-pikuk, melainkan dedikasi yang tenang dan mantap seumur hidup.”

PERNYATAAN di atas diungkapkan oleh Adlai Stevenson, mantan wakil presiden Amerika Serikat (1893-1897) di masa kepresidenan Grover Cleveland dari Partai Demokrat.

Pernyataan tersebut agaknya tepat apabila kita hubungkan dengan keadaan Aceh sejak pascadamai hingga kini.

Patriotisme masyarakat Aceh yang pernah bergelora dalam perjuangan GAM dan aksi menuntut referendum hingga era setelah perdamaian dan pemberlakuan status otonomi khusus yang menjadi hadiah MoU melalui UUPA, kini hanya berupa gegap-gempita yang tak terawat.

Semangat tersebut  gagal bertransformasi dengan baik dalam bentuk patriotisme yang lebih konstruktif.

Yaitu patriotisme yang menumbuhkan kesadaran tiap elemen masyarakat untuk membangun Aceh dalam mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat.

Publik disibukkan dengan hiruk-pikuk narasi politik yang simbolik dan perseturuan politis yang nihil substansi.

Namun kita, masyarakat Aceh selalu luput dalam narasi dan isu politik yang lebih riil dan lebih mengena dengan keadaan Aceh hari ini.

Kita mungkin lupa bahwa kenyataannya Aceh sedang tidak baik-baik saja.

Ke depan, apabila dana Otsus telah berakhir, dapat diprediksi bahwa masalah Aceh akan semakin besar.

Untuk itu kita perlu memikirkan hal-hal substansial mengenai Aceh dan menghindari polemik mengenai hal-hal yang justru akan menghabiskan energi dan menguras tenaga hingga lupa pada substansi permasalahan yang lebih nyata.

Baca juga: Menelusuri ‘Kampung Rencong’ di Suka Makmur, Aceh Besar

Kompleksitas Permasalahan Aceh

Publik luput dari kenyataan pahit Aceh hari ini sebagai provinsi dengan jumlah APBD (APBA) yang masuk dalam bilangan terbesar nasional namun secara miris tingkat kemiskinan di Aceh berada di peringkat bawah nasional bahkan termiskin di Sumatera.

Permasalahan Aceh bukan hanya dalam peringkat kemiskinan. APBA maupun APBK kabupaten/kota di Aceh juga berada dalam rasio perimbangan yang tidak ideal, di mana jumlah anggaran untuk belanja pegawai cukup besar dan membebani, sedangkan anggaran produktif yang benar-benar dibelanjakan untuk kebutuhan pembangunan menjadi relatif sedikit.

Di sektor pendidikan Aceh juga punya permasalahan yang besar. Aceh memiliki jumlah sekolah negeri terbanyak nomor dua di Sumatera, namun dalam kualitas tenaga pengajar/guru Aceh berada di peringkat ketiga terendah nasional setelah Provinsi Maluku Utara dan Provinsi Maluku.

Mengenai output atau target dari pemberian beasiswa di tingkat universitas kehususnya beasiswa luar negeri yang kini dibidangi oleh BPSDM, yang telah berlangsung sejak era Gubernur Irwandi-Nazar hingga kini, juga belum dapat dilihat kontribusinya bagi pembangunan Aceh.

Misalnya dengan pemberian beasiswa di bidang yang berhubungan langsung dengan peningkatan kesejahteraan di Aceh.

Dalam orientasi pembangunan Aceh, sejauh ini Aceh masih menjadi sentra bagi industri ekstraktif berupa pertambangan oleh beberapa korporasi yang agaknya kurang berdampak bagi masyarakat, khususnya masyarakat sekitar secara langsung.

Di sektor perkebunan Aceh memiliki lahan perkebunan sawit yang luas, sebagiannya dikelola oleh korporasi pada lahan HGU, di mana dampak dari adanya perkebunan korporasi terhadap pemasukan daerah belum dapat dirasakan langsung manfaatnya dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Dalam strategi pembangunan ekonomi, Aceh belum secara maksimal mengembangkan sektor plantasi; pertanian dan  perkebunan (khususnya perkebunan non-korporat) secara strategis dan masif guna menghasilkan komoditas unggul bernilai jual untuk menambah pemasukan daerah dan mengembangkan usaha masyarakat.

Belum lagi kita bicara mengenai sektor industri yang belum berkembang di Aceh.

Mengenai investasi, dari sejak tahun 2007 hingga 2021, Aceh menempati urutan ke 16 dalam peringkat jumlah investasi dalam negeri (PMDN) berjumlah 34,69 triliun.

Sedangkan dalam penanaman modal asing (PMA) Aceh tidak masuk dalam daftar peringkat 20 besar provinsi (data BKPM: 2021).

Artinya dalam menarik masuknya investor dalam penanaman modal, belum mendapatkan hasil secara maksimal.

Nilai besaran investasi yang sudah ada di Aceh juga belum berkontribusi positif bagi meningkatkan taraf hidup masyarakat Aceh secara keseluruhan.

Dalam sektor pariwisata, Aceh belum masuk dalam destinasi wisata favorit atau yang banyak dikunjungi.

Banyak potensi objek pariwisata belum dikembangkan dan dikelola dengan baik.

Perlu ada strategi perencanaan, pembangunan infrastruktur, kerja sama dengan pihak swasta, hingga promosi ke luar daerah hingga luar negeri yang harus dilakukan untuk menggenjot jumlah wisatawan asing dan mancanegara ke Aceh.

Belum lagi masalah mengenai jumlah pengangguran khususnya angkatan kerja di usia produktif atau potensi bertambahnya jumlah angkatan kerja yang tidak sebanding dengan ketersediaan lapangan kerja di Aceh.



Sumber: aceh.tribunnews.com

Disclaimer: Images, articles or videos that exist on the web sometimes come from various sources of other media. Copyright is fully owned by the source.