Pesan Ahli Waris Cut Nyak Meutia di Hari Pahlawan - Bicara Penting

Latest

logo

Pesan Ahli Waris Cut Nyak Meutia di Hari Pahlawan

Pesan Ahli Waris Cut Nyak Meutia di Hari Pahlawan

OLEH TEUKU ADRIANSYAH, cicit Cut Meutia dan Ketua BKPRMI Aceh, melaporkan dari Banda Aceh

Hari Pahlawan 10 November yang setiap tahun diperingati menjadi salah satu momen mengenang sejarah perjuangan para pendahulu.

Jika bukan karena jasa mereka, mungkin sampai saat ini kita masih belum bisa merasakan nikmatnya kemerdekaan. Salah satu pahlawan yang patut dan layak kita kenang perjuangannya adalah Cut Nyak Meutia.

Beliau adalah seorang pejuang perempuan pada masa Kesultanan Aceh Darussalam. Ia lahir di Keureutoe, Aceh Utara, pada 15 Februari 1870.

Cut Nyak Meutia gugur dalam pertempuran dengan pasukan Belanda di Alue Kurieng, Aceh Utara, pada 24 Oktober 1910. Makam Cut Nyak Meutia berada di kawasan hutan lindung Gunung Lipeh, Ujung Krueng Keureutoe, Pirak Timur, Aceh Utara.

Beliau merupakan salah satu Pahlawan Nasional dari Aceh yang ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 107/1964 Tahun 1964.

Pada tahun 2016, Pemerintah RI mengabadikan wajahnya dalam pecahan uang kertas rupiah baru Republik Indonesia, pecahan Rp1.000.

Kisah kehidupan dan  perjuangan Cut Nyak Meutia layak menjadi inspirasi serta motivasi bagi generasi sekarang dan yang akan datang.

Saya sebagai cicitnya, putra Teuku Djohan yang berdomisili di Banda Aceh, sangat mendukung dan mendorong agar semua elemen masyarakat, lembaga swadaya masyarakat (LSM), organisasi kemasyarakatan/organisasi kepemudaan (OKP) dan pemerintah menjadikan Cut Nyak Meutia sebagai sumber inspirasi dan motivasi dalam aktivitasnya.

Pihak sekolah dan orang tua pun perlu memberikan edukasi mengenai betapa pentingnya kita mengenal sejarah perjuangan para pahlawan.

Pertaruhkan nyawa

Berdasarkan publikasi Kompas pada 2 Juni 2021 yang ditulis Verelladevanka Adryamarthanino, Cut Meutia adalah perempuan Aceh yang turut mempertaruhkan nyawanya demi mengusir penjajah Belanda. Bahkan, sejak kecil, ia sudah dididik untuk memahami soal agama dan ilmu berpedang.

Semasa hidupnya, Cut Meutia dikenal sebagai ahli pengatur strategi pertempuran. Taktiknya sering kali memorakporandakan pertahanan militer Belanda. Salah satu taktik yang pernah ia gunakan adalah taktik serang dan mundur, serta menggunakan prajurit memata-matai gerak-gerik pasukan lawan.

Meski sempat dibujuk untuk menyerah, Cut Meutia tetap memilih berperang. Pendeknya, Cut Meutia merupakan satu-satunya anak perempuan dari pasangan Teuku Ben Daud Pirak dan Cut Jah. Orang tuanya merupakan keturunan Minangkabau asal Sijunjung, Sumatera Barat. Ayahnya adalah seorang ulama dan pemimpin pemerintahan di daerah Pirak saat itu.

Semasa hidupnya, Cut Meutia menikah tiga kali. Suami pertamanya adalah Teuku Syamsarif atau yang dikenal Teuku Chik Bintara. Lalu, suami keduanya bernama Teuku Chik Muhammad. Bersama dengan suami keduanya inilah Cut Meutia pertama kali turun ke medan perang melawan Belanda.

Bersama suami keduanya, pada 1899, Chik Muhammad memimpin serangan melawan Belanda. Awalnya, pasukan Belanda kebingungan harus berbuat apa. Namun, dua tahun berikutnya, Chik Muhammad bersama pasukannya tidak lagi bergerak. Belanda mengira mereka sudah kehilangan semangat untuk melakukan perlawanan. Namun, pada 1901, Chik Muhammad kembali melakukan serangan mendadak dan berhasil menghancurkan pertahanan Belanda di sana. Atas keberhasilannya ini, Teuku Chik Muhammad diangkat menjadi Bupati Keureutoe oleh Sultan Aceh.

Pada 1905, Chik Muhammad ditangkap oleh Belanda. Ia dimasukkan ke dalam penjara dan ditembak mati oleh pasukan Belanda. Setelah suami kedua meninggal, Cut Meutia menikah lagi dengan Pang Nanggroe. Dengan suami ketiganya ini akhirnya mereka melanjutkan melawan penjajahan Belanda. Ia bersama Pang Nanggroe bergabung dengan pasukan lainnya di bawah pimpinan Teuku Muda Gantoe. Cut Meutia dan Pang Naggroe saling bahu-membahu melawan Belanda. Namun, pada suatu pertempuran dengan Korps Marechausee, satuan militer bentukan kolonial Hindia Belanda, di Paya Ciem, Cut Meutia bersama para wanita lain melarikan diri ke hutan. Pang Nanggroe sendiri melanjutkan perlawanan hingga gugur pada 26 September 1910. Mengetahui hal tersebut, Cut Meutia bangkit dan terus melakukan perlawanan bersama sisa-sisa pasukannya, yaitu 45 orang dan 13 senjata. Cut Meutia menyerang dan merampas pos-pos kolonial sambil bergerak menuju Gayo melintasi hutan belantara.

Namun, pada 24 Oktober 1910, Cut Meutia bersama pasukannya ditemukan oleh pihak Belanda dari persembunyiannya di Paya Cicem. Awalnya ia menolak untuk ditangkap sambil memegang rencong, senjata khas Aceh. Cut Meutia gugur ketika pasukan Belanda menembak kepala dan dadanya. Atas jasa-jasanya, pada 19 Desember 2016, Pemerintah Republik Indonesia mengabdikannya dalam pecahan uang kertas rupiah baru Republik Indonesia, Rp1.000. Ia juga dikukuhkan menjadi Pahlawan Nasional Indonesia. Nama Cut Meutia juga diabadikan di beberapa tempat.

Tanpa setahu ahli waris

Sebagai salah satu cicitnya, saya juga mengucapkan syukur, terima kasih, dan penghargaan kepada semua pihak, baik itu pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan semua lapisan masyarakat atas  perhatiannya selama ini kepada Pahlawan Nasional, Cut Nyak Meutia.



Sumber: aceh.tribunnews.com

Disclaimer: Images, articles or videos that exist on the web sometimes come from various sources of other media. Copyright is fully owned by the source.