Nawi, Saksi Hidup Perjuangan Bangsa Melawan Belanda di Ranah Minang - Bicara Penting

Latest

logo

Nawi, Saksi Hidup Perjuangan Bangsa Melawan Belanda di Ranah Minang

Nawi, Saksi Hidup Perjuangan Bangsa Melawan Belanda di Ranah Minang

Nawi, pejuang yang melawan penjajah di Sumatera Barat. (Liputan6.com/ Novia Harlina)

Padang - Pada usia 99 tahun, Nawi tak lagi mampu melihat dengan jelas jika tidak dibantu kaca matanya yang bergagang hitam tebal. Pun ketika berdiri, ia tak bisa berlama-lama.

Namun, usia tak menenggelamkan ingatannya untuk kembali ke 79 tahun silam. Nawi ketika itu masih muda belia, 22 tahun.

Mengenakan peci veterannya berwarna kuning, baju hijau dengan nama NAWI di kanan, dan lencana penghargaan di dada kirinya, dia mengais sisa-sisa ingatannya ketika berperang melawan Belanda mulai 1945 hingga September 1949 di Sumatera Barat.

Nawi mulai bercerita, "Saya komandan regu, beranggota 12 prajurit, ketika tahun 1945 saya bertugas di Padang," katanya kepada Liputan6.com beberapa waktu lalu.

Ia melanjutkan, pasukannya bertahan di Padang sampai tahun 1947, kemudian mundur ke Solok, lalu ia juga terpaksa mundur dari Solok karena Belanda menguasai daerah itu.

Tak hanya Padang dan Solok, Nawi menyebut Belanda juga menguasai Bukittinggi, Padang Panjang, dan Payakumbuh. Ketika itu, ia terpaksa mundur ke Pariaman.

"Kami di dalam hutan, bergerilya, karena senjata Belanda dan senjata kita ketika itu tidak sebanding," tuturnya.

Nawi mengatakan, pihaknya hanya bisa ke luar pada malam hari dan bersembunyi di hutan pada siang hari.

Nawi dan pasukannya hanya punya granat serta senjata curian dari Belanda, apa daya, kata Nawi, Indonesia kala itu memang tak mampu menyeimbangi persenjataan dengan Belanda.

"Ketika malam itulah kami berjuang diam-diam," sebut Kakek Nawi yang lahir pada 12 Mei 1923 itu.


Tertembak di Paha

Nawi memang tak pernah tertangkap atau dipenjara oleh tentara Belanda, tetapi pada tubuhnya hingga kini masih ada bekas sisa-sisa perjuangan puluhan tahun lampau.

Di paha kirinya, Nawi sempat tertembak dan peluru bersarang di sana. Nasib baik, Nawi mampu bertahan dari tembakan itu.

Sekali waktu, pejuang ini juga sempat nyaris terkena peluru sekali lagi. Dia beruntung, peluru hanya mengenai kulitnya.

"Pada September 1949 tensi peperangan muai turun meski Belanda masih ada di Sumbar," kata Nawi.

Saat ini, Nawi adalah pejuang satu-satunya yang masih hidup di Padang. Pada umur senja, Nawi berharap bangsa Indonesia menjaga persatuan dan tak terpecah belah.

"Hiduplah dengan rukun, damai, dan berbuat baiklah," dia berpesan.



Sumber: www.liputan6.com

Disclaimer: Images, articles or videos that exist on the web sometimes come from various sources of other media. Copyright is fully owned by the source.