Menghisap Masa Depan Paru Aceh - Bicara Penting

Latest

logo

Menghisap Masa Depan Paru Aceh

Menghisap Masa Depan Paru Aceh

Saiful Hadi Baroh, Founder Atjeh Lung Care, bekerja sebagai dokter puskesmas Mane, Kabupaten Pidie. Saat ini mengikuti program Pendidikan Spesialis Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi FK USK/RSUDZA. 

Oleh : Saiful Hadi Baroh *)

Bulan November tahun ini merupakan bulan istimewa bagi dunia kesehatan. Di tengah euphoria dan bentuk syukur atas menurunnya kasus infeksi Covid-19.

Berakhirnya masa pandemi ini harus menjadi momen menumbuhkan kesadaran kita bersama akan adanya ancaman-ancaman kesehatan yang tanpa kita sadari telah mengganggu produktifitas, kesejateraaan ekonomi dan partisipasi sosial masyarakat. 

Bulan November adalah bulan Kesehatan Nasional karena pada Tanggal 12 November di peringati sebagai Hari Kesehatan Nasional atau lebih dikenal HKN.

Dalam lingkup Kesehatan paru, Bulan November adalah Bulan Kewaspadaan kanker paru.

Pada Tanggal 12 November juga diperingati sebagai hari Pnemonia se-dunia, dan hari ini Tgl 17 November diperingati sebagai hari Penyakit Paru Obtruksi Kronis (PPOK) yang dikenal sebagai World COPD Day.

Jika saja boleh kita analogikan, ada beberapa cara untuk menentukan penanggalan dalam Islam, yang biasa digunakan para pakar ilmu falak untuk menentukan awal Ramadhan atau kapan lebaran.

Selain metode rukyatul hilal, ada metode hisab. Hisab dalam artian menghitung, memprediksi dan hingga pada tahap akhir menentukan waktu pasti.

Baca juga: Dinkes Aceh Lakukan Perbaikan Data Vaksin

Akan tetapi, hisap yang kami maksudkan disini adalah bagaimana kita memperhitungkan dan memprediksi masa depan kesehatan paru masyarakat Aceh ditengah kurangnya kesadaran masyarakat akan faktor-faktor resiko yang mengurangi kinerja paru sebagai organ vital pernapasan.

Para pakar Kesehatan dunia telah memberi peringatan bahwa, ada ancaman serius yang berpotensi mengurangi produktifitas masyarakat akibat angka morbiditas penyakit paru dan saluran pernapasan yang semakin hari semakin mengkhawatirkan.

Selain dipengaruhi oleh gaya hidup individu yang serba instan, kurangnya mobilitas, perubahan sosiokultural, arus urbanisasi,  dan perubahan iklim juga menjadi isu hangat yang diprediksi bisa mempengaruhi kesehatan masyarakat global karena polusi udara yang di timbulkan.

Masyarakat Urban

Arus urbanisasi telah menarik sebagian besar penduduk rural pindah ke kota. Urbanisasi diprediksi menjadi faktor resiko tingginya penyakit paru dan saluran pernapasan. Karena urbanisasi diidentikkan dengan kepadatan penduduk.

Berdasarkan penelitian diketahui bahwa kepadatan penduduk memiliki hubungan yang nyata dengan insiden penularan penyakit infeksi saluran pernapasan jika tanpa disertai dengan system pertahannan kesehatan lingkungan yang baik, seperti infeksi tuberkulosis paru, corona virus atau basil kuman lainnya yang mudah menular melalui pneyebaran udara dan droplet penderita kepada individu yang sehat.

Interaksi sosioekonomi yang dilakukan oleh satu individu dengan individu lain akan semakin mempermudah laju penularan penyakit infeksi pernapasan.

Baca juga: Kapan Makmum Mulai Baca Al-Fatihah? Setelah atau Serentak Dengan Imam? Ini Kata Ustad Abdul Somad

Apalagi penyakit wabah seperti Covid 19 yang basil kuman nya dapat bertahan beberapa jam di udara sebelum menginvasi inangnya.

Maka disinilah diperlukan penerapan protokol kesahatan berupa kesadaran memakai masker, menjaga jarak, agar mudah terhidar dari penyakit yang disebarkan lewat udara (airborne disease).

Kemiskinan

Jika dibandingkan dengan daerah lain di Pulau Sumatera, Aceh menduduki peringkat angka terminskin, sesuai rilis Badan Piusat Statistik pada Juli 2021.

Ada sekitar 15,33 % penduduk Aceh hidup dalam garis kemiskinan.

Beberapa penyebab kemiskinan yang pernah dikemukakan seperti karena kurangnya mutu pendidikan masyarakat, kurangnya minat dan daya saing pemuda, dan kurangnya dukungan pemerintah untuk pelatihan angkatan kerja dan sulitnya mendapa suntikan bantuan modal usaha oleh masyarakat biasa.

Kondisi tersebut diperparah dengan pandemi Covid-19 yang mengharuskan beberapa geliat ekonomi msyarakat macet bahkan gulung tikar, sehingga meningkatnya angka penduduk usia kerja yang terpaksa mengganggur tanpa pekerjaan.

Kalau dalam konsteks pemahaman agama kemiskinan identik dengan kekufuran, maka dalam lingkup dunia Kesehatan. Kemiskinan identik dengan timgginya ganguan kesehatan khusus penyakit infeksi.

Kemiskinan mengakibatkan rendahnya gizi keluarga. Kekurangan nutrisi yang seimbang mengakibatkan tergangunya tumbuh kembang anak, turunnya daya tahan tubuh pada dewasa karena ketidak seimbangan antara makronutrien dan mikronutrien.

Baca juga: Warga Lhokseumawe yang Terpapar Covid-19 Bertambah Lagi Hari Ini

Kekurangan nutrisi bagi tubuh ini mengakibatkan daya tahan tubuh lemah saat menghadapi berbagai serangan kuman penyakit. Hal ini dibuktikan insidensi penyakit-pnyekiat infeksi paru  ditemukan lebih banyak terjadi pada masyarakat dengan eknomi keluarga rendah dibandingkan pada keluarga dengan ekonomi menengah ke atas.

Keadaan tersebut diperburuk oleh lingkungan tempat tinggal yang kumuh, kurang bersih atau rumah yang tidak layak huni. Kenyatannya kondisi rumah yang tidak memenuhi standar Kesehatan sengat berperan sebagai factor resiko penularan penyakit infeksi lewat saluran pernapasan,

Kriteria rumah sehat menurut (Ditjen Cipta Karya, 1997) antara lain: memiliki fondasi yang kuat, lantai kedap air dan tidak lembab, memiliki ventilasi, memiliki dinding rumah yang kedap air, memiliki langit-langit yang dapat menahan dan menyerap panas matahari, memiliki atap rumah sebagai penahan panas matahari. Kriteria tersebut sangat berperan dalam menurunkan insiden penyakit infeksi pernapasan.

Kebiasaan Merokok

Selaian penyakit infeksi seperti Tuberkulosis Paru dan  Pnemonia, Terdapat jenis gangguan pernapasan berupa Penyakit Paru Obstruksi Kronis yang cukup menghkawatirkan dan mengganggu  produktifitas penduduk, terutama penduduk usis tua.

PPOK ditandai oleh adaynya hambatan aliran udara saat ekspirasi (fase membuang napas). Hambatan udara tersebut disebatkan oleh karena adanya kerusakan jangka panjang pada paru-paru akibat menghirup zat berbahaya, biasanya asap rokok, serta asap dari sumber lain dan polusi udara.



Sumber: aceh.tribunnews.com

Disclaimer: Images, articles or videos that exist on the web sometimes come from various sources of other media. Copyright is fully owned by the source.