Menelusuri ‘Kampung Rencong’ di Suka Makmur, Aceh Besar - Bicara Penting

Latest

logo

Menelusuri ‘Kampung Rencong’ di Suka Makmur, Aceh Besar

Menelusuri ‘Kampung Rencong’ di Suka Makmur, Aceh Besar

MELINDA RAHMAWATI, Mahasiswi Pendidikan Sejarah Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA, sedang mengambil Program Pertukaran Mahasiswa Merdeka di Kampus UBBG Banda Aceh, melaporkan dari Aceh Besar

Satu bulan telah berlalu, ketertarikan saya untuk mempelajari dan menelusuri  kultur sosial masyarakat Aceh semakin memuncak dalam hasrat dan pikiran. Satu bulan tersebut memang waktu yang panjang untuk saya lalui sebagai mahasiswa pertukaran yang belum pernah sekalipun merantau ke daerah lain.

Namun, dalam kurun waktu tersebut saya dapat mengetahui banyak tempat di Banda Aceh dan mengunjungi berbagai tempat menarik yang berada di kota ini. Lawatan saya tak terhenti di Kota Banda Aceh saja, melainkan saya jauh berjalan hingga ke Kuta Cot Glie di Aceh Besar. Tentunya lawatan tersebut saya lakukan untuk kepentingan penelitian sejarah, sekaligus memenuhi hasrat saya untuk mengetahui rentang sosial-budaya yang dimiliki oleh masyarakat Aceh. Tidak hanya sampai di Kuta Cot Glie, saya bahkan memutar dari sana ke Lamreh yang posisinya di pinggir laut Aceh Besar. Sungguh sebuah perjalanan yang menyenangkan dan sangat berkesan bagi saya. Terutama, saat saya melewati sebuah perkampungan yang sangat terkenal menyimpan salah satu pusaka milik masyarakat Aceh. Gampong Baet Lamphuot namanya, berlokasi di Kecamatan Suka Makmur, Aceh Besar. Di kampung inilah rencong (senjata khas masyarakat Aceh) banyak ditempa. Gampong Baet Lamphuot ini sudah sejak lama dikenal sebagai “Kampung Rencong” sebab warganya memang bekerja sebagai perajin rencong.

“Beragam jenis rencong dapat dibuat di sini, di antaranya, rencong meupucok, rencong meucugek, rencong pudoi, dan rencong meukuree,” kata Zuhri, salah satu perajin rencong. Secara umum, masyarakat Aceh mengenal rencong sebagai simbol keperkasaan dan keberanian ureung Aceh sejak zaman kerajaan dahulu.

Baca juga: Memperkuat Fungsi Intelektual Publik

Kolaborasi yang menarik antara Program Studi Pendidikan Sejarah Uhamka dan Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia dari Universitas Bina Bangsa Getsempena (UBBG), tidak hanya memberikan pengalaman berharga bagi saya yang berasal dari Prodi Pendidikan Sejarah, tetapi juga menghadirkan pengalaman dan kesan baru bagi saya dan teman-teman mahasiswa Prodi Bahasa Indonesia di UBBG. Saya dan teman-teman melakukan kunjungan langsung ke “Kampung Rencong” ini. Perjalanan kami mulai dari kampus naik mobil, hanya perlu waktu 30 menit.

Setibanya di Gampong Baet Lamphuot, kami melihat aktivitas masyarakat yang sedang membuat rencong. Ada yang sedang memilah antara besi putih dan besi hitam, ada pula yang sedang memanaskan besi untuk ditempa. Ada juga yang menyatukan antarbesi yang menjadi bahan baku, lalu ditempa agar dapat menyatu secara sempurna. Ada juga yang sedang memanaskan kembali besi yang telah ditempa untuk kembali ditempa membentuk badan rencong yang diinginkan.

Baca juga: Traktor Bantuan APBN Masih di Gudang

Di samping itu, ada perajin yang sedang menempa kembali untuk membentuk besi panas tersebut untuk membentuk badan rencong yang sudah ditentukan. Ada yang sedang menghaluskan batang kayu atau tanduk kerbau yang akan digunakan sebagai sarung dan kepala rencong. Ada juga perajin yang sedang mengukir kayu atau tanduk tersebut sebagai hiasan sesuai jenis rencongnya dan masih banyak lagi aktivitas masyarakat yang berlangsung saat itu.

Kami coba mengikuti prosesi pembuatannya dari awal hingga menjadi sebilah rencong yang utuh sembari dijelaskan secara satu per satu makna dari proses yang dijalani dan bermacam filosofi yang dikandung dalam rencong tersebut. Misalnya saja rencong meupucok, rencong meucugek, rencong pudoi, dan rencong meukuree memiliki fungsi dan filosofinya tersendiri. Begitu juga dengan ukiran dan hiasan yang disematkan pada bagian sarung dan gagang rencong tersebut.

Menurut Zuhri, rencong meupucok merupakan rencong dengan gagang yang terbuat dari emas murni. Rencong meupucok ini umumnya dipakai oleh sultan pada masa kerajaan dahulu. Sarung rencong ini juga tidak berbahan sama seperti sarung rencong lainnya. Sarung untuk rencong meupucok ini terbuat dari gading dan besinya terbuat dari emas murni yang berukirkan lafaz ayat-ayat Al-Qur’an. Rencong meupucok kini hanya dipergunakan pada acara upacara adat atau perihal adat lainnya dan kesenian. Selanjutnya, rencong meucugek, merupakan sebuah rencong yang gagangnya berbentuk seperti panah (Bahasa Aceh: cugek).

Rencong ini umum dipakai oleh para uleebalang dan para laksamana/bentara sebagai senjata yang terselip di samping pinggang atau tertutup lipatan kain. Ini menjadi salah satu strategi menikam tubuh musuh tanpa disadari oleh musuh.

Baca juga: Guru Besar UIN Ar-Raniry Tausiah di Pidie



Sumber: aceh.tribunnews.com

Disclaimer: Images, articles or videos that exist on the web sometimes come from various sources of other media. Copyright is fully owned by the source.