Membesuk Penyintas Tumor Mata di Keulibeut, Pidie - Bicara Penting

Latest

logo

Membesuk Penyintas Tumor Mata di Keulibeut, Pidie

Membesuk Penyintas Tumor Mata di Keulibeut, Pidie

OLEH TEUKU ZOPAN MUSTIKA, Ketua Relawan Filantropi Aceh (RFA), Pengurus Forum Pengurangan Risiko Bencana (F-PRB) Aceh, dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe), melaporkan dari Keulibeut, Pidie

Selasa (9/11/2021), Relawan Filantropi Aceh (RFA) bekerja sama dengan Save Education Aceh (SEA) berangkat ke Kabupaten Pidie. SEA merupakan komunitas di Aceh yang concern dalam memperjuangkan pendidikan inklusi. Berdiri sejak awal 2021, SEA telah banyak mengadakan kegiatan yang bersifat edukatif demi masa depan pendidikan Aceh, dengan bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Dinas Pendidikan Aceh, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Banda Aceh, serta lembaga/komunitas lainnya, termasuk RFA saat ini.

Pada bulan Juli, di akun resmi Instagram-nya, founder sekaligus Ketua SEA, Kak Cut Aishah sempat mengatakan, “Stand up for education adalah sebuah kata yang menggambarkan jutaan mimpi untuk mendidik anak negeri. Berawal dari mimpi kecil kita yang begitu sederhana, kita bertekad untuk berjuang bersama mengembangkan visi dan misi dalam satu wadah yang bernama ‘Save Education Aceh’.”

Adapun RFA adalah komunitas yang baru terbentuk sejak 25 Juli 2021, yang berdedikasi berdasarkan kesamaan visi peduli sesama untuk berbagi kebahagiaan. Cara bergabung ke grup ini sangat mudah, hanya dengan berkomitmen menyumbangkan uang Rp20.000 setiap bulannya untuk dikumpulkan dan diberikan kepada pihak yang membutuhkan.

Hingga kini telah bergabung 51 peserta dengan beragam latar belakang di dalam grup WhatsApp RFA, ditambah 41 orang di luar grup WA, tapi tetap berkontribusi untuk perjuangan RFA. Totalnya ada 92 orang yang terdata dalam laporan keuangan organisasi kemanusiaan ini. Di antaranya, Teuku Yusra Dharma selaku pendiri dan pembina RFA (pegiat kemanusiaan, Ketua Awak Droe Only/ADO), Teuku Zopan Mustika (Ketua, yang juga Pengurus Forum Pengurangan Risiko Bencana Aceh dan anggota FAMe), Rosi Malia (Ketua Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia/Iwapi Aceh), Purwana Satriyo (Dosen Fakultas Pertanian USK), Cut Aishah (owner Aishah Gallery dan Ketua Save Education Aceh/SEA), Fadhil (Kepala Dinas Kominfotik Kota Banda Aceh), Riri Isthafa Najmi (Koordinator FAMe), Akmal Iman (Koordinator Gerakan Pemuda Subuh (GPS) Aceh), dan masih banyak lainnya.

Pagi itu (9/11/2021) lumayan mendukung cuacanya. Tidak seperti hari-hari sebelumnya yang terus hujan, sehingga menyebabkan banjir yang menggenangi hampir seluruh Aceh. Pukul 08.30 WIB, saya bersama Murni (Bendahara RFA), Kak Cut Aishah (Ketua SEA), dan anggota SEA—Een, Rere, Rahmad, dan Nanda, naik mobil Innova Venturer milik Kak Cut, berangkat menuju Sigli.

Tujuan kami tak lain untuk bersilaturahmi dan memberikan sumbangan kepada Rafki Murjani (9 tahun), penyintas tumor mata. Ia tinggal di Gampong Dayah Tanoh Keulibet, Kecamatan Pidie, Kabupaten Pidie. Saat ini ia bersekolah di SD Negeri Keulibet di Jalan Sigli-Garot—jalan menuju Universitas Jabal Ghafur--Gampong Keude Keulibet, kecamatan yang sama.

Tiba di SDN Keulibeut pukul 12.00 WIB, rombongan kami yang terdiri atas tujuh orang ini disambut kepala sekolah dan dewan guru. Juga hadir Komite Sekolah, Yusuf.

Yusuf mengatakan, kiranya agar Rafki mendapat perhatian serius di tingkat provinsi, dalam hal ini Dinas Pendidikan Aceh. “Saya mengapresiasi kedatangan rekan-rekan relawan hari ini (Selasa, red), semoga Allah membalas kebaikan rekan-rekan. Yang bersangkutan ini (Rafki) kelelahan matanya kalau belajar di sekolah. Dia tidak bisa menatap buku dan papan tulis lama-lama. Saya berharap, ada perhatian lebih dari pihak provinsi (dalam hal ini Dinas Pendidikan Aceh),“ ujarnya.

Rafki menderita tumor mata sejak lahir.  Kondisi anak bungsu dari tiga bersaudara ini, kepalanya membesar, bola mata kanannya tidak ada lagi karena sudah diangkat saat operasi tahun 2017, dan mata kiri semakin membesar. Cairan juga terus keluar dari matanya, apalagi saat ia sedang fokus belajar. Selama di sekolah, ia selalu didampingi ibunya, Nurlaili (43).

Nurlaili mengatakan, tiga tahun lalu Rafki dioperasi di Rumah Sakit Umum Daerah dr Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh untuk diangkat bola mata kanannya. “Saat itu (tiga tahun lalu) mengingat Sabtu-Minggu ruang operasi tidak buka, maka kita bawa Rafki hari Senin. Senin itu pun tidak langsung operasi. Akhirnya dioperasi pada hari Rabu. Sebelum dioperasi, diperiksa dulu jantung, darahnya, dan lainnya,” kisah Nurlaili.

“Apakah Dinas Pendidikan sudah melihat kondisi Rafki?” tanya Kak Cut. Nurlaili menjawab, “Belum.” Jawabannya tersebut diperkuat oleh kepala sekolah dan komite sekolah.

Kepala Sekolah SDN Keulibeut, Nurmalawati MPd, mengatakan, operasi tiga tahun lalu tersebut terlaksana berkat bantuan dana aspirasi dari seorang Anggota DPRA saat itu. “Baru dari dewan yang ada perhatian ke Rafki. Pemerintah belum,” tukas Bu Mala.

Disebutkan, kalau belajar di sekolah ia tidak sanggup berlama-lama, tidak dapat dengan mudah dicerna apa yang diterangkan oleh guru. Tetapi kalau belajar mengaji di balai pengajian dekat rumahnya, ia merasa nyaman. Begitulah kondisi hari-harinya.

Setelah lama berdiskusi, Murni dan Kak Cut Aishah menyerahkan santunan uang tunai dan sembako dari anggota RFA dan SEA kepada Rafki. Selanjutnya kami foto bersama.

Harus operasi lagi

Ketua SEA yang juga anggota Relawan Filantropi Aceh (RFA), Cut Aishah, yang biasa saya sapa Kak Cut, mengatakan, sebenarnya Rafki dapat diupayakan untuk dioperasi lagi, setidaknya untuk mengurangi gejala dan memperbaiki posisi matanya.

“Maksud kedatangan kami ke sini (SDN Keulibeut) adalah untuk melihat perkembangan kondisi Rafki. Kalau bisa, Rafki dirujuk ke Banda Aceh. Peralatan medis di RSUZA sudah cukup untuk menangani pasien tumor mata dan sejenisnya,” kata owner Aishah Gallery—yang berlokasi di depan Dinkes Kota Banda Aceh di Seutui—ini.

Kak Cut berujar, sudah saatnya Rafki mengurus Jaminan Kesehatan Aceh (JKA). “Syarat-syaratnya yaitu KK, KTP (milik orang tua), dan NPWP. Tetapi NPWP itu syarat bagi ASN, pengusaha, dan pengusaha. Anak kecil tidak perlu syarat NPWP,” terangnya.

Ibunda Rafki, Nurlaili, mengatakan bahwa tiga tahun lalu Rafki sudah dirujuk ke RSUZA. Saat itu operasi pengangkatan bola mata kanan Rafki terlaksana berkat bantuan dana aspirasi dari seorang anggota DPRA. Ia menjelaskan semuanya kepada Kak Cut Aishah dan kawan-kawan.



Sumber: aceh.tribunnews.com

Disclaimer: Images, articles or videos that exist on the web sometimes come from various sources of other media. Copyright is fully owned by the source.