Memberdayakan Disabilitas Melalui Kewirausahaan - Bicara Penting

Latest

logo

Memberdayakan Disabilitas Melalui Kewirausahaan

Memberdayakan Disabilitas Melalui Kewirausahaan

Kemalahayati, SKM, M.Kes

Kasi Rehabilitasi Sosial Anak, Lanjut Usia dan Penyandang Disabilitas Dinas Sosial Kota Banda Aceh

Tidak semua orang terlahir dalam kondisi yang sempurna. Ada banyak saudara di lingkungan sekitar kita yang lahir dalam kondisi serba keterbatasan. Biasanya seseorang yang memiliki keterbatasan fisik maupun mental sering disebut dengan istilah penyandang disabilitas. Namum, memiliki keterbatasan bukan berarti tidak dapat melakukan aktivitas sehari–hari.

Persepsi terhadap penyandang disabilitas sebagai orang yang tidak berguna mengalir begitu saja, keberadaan mereka dianggap sudah tidak memiliki peran dan fungsi dengan sempurna bagi kehidupan sosiaL maupun kehidupan pribadi mereka. Padahal, jika diberdayakan, maka mereka akan mampu menunjukkan kelebihan yang mereka miliki di tengah kekurangannya.

Karena Allah telah menjanjikan bahwa setiap manusia diberi kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Tinggal bagaimana manusia dapat memanfaatkannya dengan cara mereka.

Akibat tingginya minat masyarakat menikmati kopi, mengakibatkan usaha warung kopi masih menjadi peluang yang menjanjikan di Aceh hingga saat ini. Masyarakat membutuhkan tempat untuk sekadar melepas lelah setelah bekerja dan dapat menyegarkan kembali suasana fisik akibat kejenuhan. Pada era sekarang ini, warung kopi (Warkop) menjadi salah satu tempat favorit dan diminati segala usia dan profesi. Mengunjungi Warkop sudah menjadi budaya untuk sekadar nongkrong dan bersantai menghabiskan waktu, bahkan saat ini Warkop banyak dimanfaatkan menjadi lokasi strategis untuk membicarakan masalah pekerjaan dan isu-isu terhangat yang sedang berkembang di tengah masyarakat. Warkop tidak sekadar menjadi tempat berkumpul masyarakat saja, namun saat ini Warkop menjadi fungsi tambahan sebagai tempat bertemu teman lama, sahabat, dan bahkan rekan bisnis.

Dinas Sosial sebagai salah satu instansi pemerintah yang berada di Banda Aceh, yang salah satu tupoksinya adalah mengurusi masalah penyandang disabilitas, mencoba menginisiasi sebuah wadah agar penyandang disabilitas di Kota Banda Aceh mampu mengembangkan potensi dirinya di tengah keterbatasan yang mereka miliki. Salah satu wadah tersebut, dengan membuka warung kopi di lingkungan kantor, dan mempekerjakan para penyandang disabilitas yang menjadi binaan Dinas Sosial Banda Aceh.

Hana Sue Cafe menjadi pilihan nama bagi warung kopi tersebut. Nama Hana Sue dipilih karena, pengelola merupakan penyandang disabilitas yang memiliki keterbatasan indera yaitu tunarungu dan tunawicara. Dalam Bahasa Aceh, Hana Sue memiliki arti tanpa suara atau tidak ada suara.

Dalam hal ini Pemerintah Kota Banda Aceh memberi kesempatan bagi penyandang disabilitas tunarungu dan tunawicara agar mereka dapat beraktivitas dan bekerja sebagai bentuk inklusivitas alias memberikan hak mereka sebagaimana mestinya sesuai dengan UU no 8 tahun 2016 tentang penyandang disabilitas, pasal 27 ayat (2) UUD 1945 yaitu“ Tiap–tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan” dan Peratura Walikota Banda Aceh No 1 Tahun 2019 tentang “Pemenuhan Hak Bagi Penyandang Disabilitas Dalam Mendapatkan Pekerjaan Yang Layak”

Tujuannya inovasi ini untuk memberikan dampak positif dan memenuhi hak-hak bagi penyandang disabilitas karena mereka dalam keterbatasan berbicara tapi mereka tidak terbatas dan mampu untuk mandiri. Tidak sedikit masyarakat yang penasaran untuk mendatangi warung kopi di perkarangan Dinas Sosial Banda Aceh.

Masyarakat yang berkunjung sebagian besar karena ingin melihat kehebatan mereka sebagai Barista dan keramahan pramusaji dalam memberikan pelayanan dan keramahan kepada konsumen meskipun dalam keheningan dan tanpa suara. Ternyata meskipun memiliki keterbatasan fisik, mereka mampu memberi pelayanan dan tidak kalah dengan warung kopi yang mempekerjakan orang normal.

Penataan tempat dengan suasana yang teduh di bawah pohon yang rindang membuat pengunjung merasa betah dan ingin berlama-lama menghabiskan waktu di warung kopi Hana Sue sambal ngobrol berbagai hal.

Warung kopi Hana Sue yang diinisiasi oleh Dinas Sosial Kota Banda Aceh benar-benar ingin mengedukasi pengunjung bahwa penyandang disabilitas juga harus dihargai keberadaannya. Selain itu lewat warung kopi ini, pengunjung diajak untuk memahami bahasa isyarat yang disampaikan oleh pramusaji. Meskipun pengunjung tidak dapat berbahasa isyarat, namun tetap mampu berkomunikasi dengan barista dan pramusaji.

Hal ini terjadi karena pramusaji dapat membaca gerak bibir dan sudah mulai terlatih secara terpadu. Bahkan konsep ke depan, dinas sosial akan mengundang mahasiswa dan mahasiswi untuk berkunjung ke warung kopi Hana Sue dan bisa belajar bahasa isyarat secara gratis sekaligus menikmati kopi hasil racikan penyandang disabilitas.

Sebelum usaha warung kopi di launching oleh Dinas Sosial Kota Banda Aceh, terlebih dahulu diberikan pelatihan barista kusus untuk kelas penyandang disabilitas tunarungu dan tunawicara yang bekerja sama denga Balai Latihan Kerja (BLK) Kementerian Ketenagakerjaan Banda Aceh, yang dimulai dengan melakukan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU).

Pemerintah Kota Banda Aceh melalui Dinas Sosial Kota Banda Aceh merekomendasi dan memfasilitasi 15 orang penyandang disabilitas dan 1 orang pendamping disabilitas. Pelatihan Barista dilaksanakan selama 28 hari dan seluruh kebutuhan keterampilan disediakan oleh BLK tersebut.

Pelatihan barista memberikan keterampilan dalam menyajikan kopi yang nikmat dengan komposisi yang sesuai dan memberikan keterampilan cara membuat berbagai jenis kopi dan meracik kopi menjadi nikmat.

Selain itu mereka juga dibekali ilmu pelayanan dan manajemen keuangan. Manfaat pelatihan tersebut membawa kesan positif yang dapat membuat penyandang disabilitas percaya diri dalam memulai pekerjaannya dan mampu melakukan aktivitasnya dengan mandiri.

Meskipun usia warung kopi binaan Dinas Sosial Kota Banda Aceh masih seumur jagung dan fasilitas belum memadai sebagai sebuah warung kopi kekinian, namun untuk bisa maju dan berkembang memiliki peluang yang besar. Pada pertengahan September yang lalu, difasilitasi oleh Pemerintah Kota Banda Aceh, Menteri Sosial yang sedang melakukan kunjungan kerja ke Aceh memberi bantuan berupa alat mesin kopi, gelas, kompor gas, dan lain-lain.

Selain itu Dinas Sosial Kota Banda Aceh juga melakukan upaya penggalangan bantuan dana di beberapa CSR untuk bisa ikut membantu perlengkapan perlengkapan warung kopi serta meja kasir. Meskipun dalam keterbatasan fasilitas, namun para penyandang diasilitas tetap antusias dalam menjalankan usaha warung kopi ini, mereka tetap memberikan pelayanan yang ramah dengan senyuman dan bahasa isyarat yang menjadi andalan nya.



Sumber: aceh.tribunnews.com

Disclaimer: Images, articles or videos that exist on the web sometimes come from various sources of other media. Copyright is fully owned by the source.