Kisah Wisudawan Terbaik Uniki, Tak Diakui sebagai Anak karena Masuk Islam - Bicara Penting

Latest

logo

Kisah Wisudawan Terbaik Uniki, Tak Diakui sebagai Anak karena Masuk Islam

Kisah Wisudawan Terbaik Uniki, Tak Diakui sebagai Anak karena Masuk Islam

OLEH CHAIRUL BARIAH, Wakil Rektor II Uniki, Dosen FE Umuslim, dan Anggota FAMe Chapter Bireuen, melaporkan dari Bireuen

UPACARA wisuda sangatlah ditunggu-tunggu oleh setiap lulusan perguruan tinggi. Tak terkecuali di kampus kami, Universitas Islam Kebangsaan Indonesia (Uniki) yang berkedudukan di Bireuen, Aceh.

Prosesi wisuda yang digelar dalam Rapat Senat Terbuka dalam Rangka Wisuda Magister, Sarjana, dan Ahli Madya di lingkungan Uniki berlangsung Sabtu lalu.

Momentum tersebut meninggalkan kesan yang tak terlupakan bagi seorang wisudawati yang lulus dengan pujian (cum laude). Saya berkesempatan berbincang-bincang pada suatu sore dengan perempuan berprestasi ini.

Kisahnya begitu viral di medsos. Setelah tim panduan suara menyanyikan lagu Ibu menjelang prosesi acara wisdua, Syifa berlari ke pangkuan ibunya yang duduk di bangku undangan.

Baca juga: Uniki Bireuen Wisuda 364 Lulusan

Baca juga: VIDEO - UNIKI Bireuen Wisuda 324 Sarjana dan 40 Magister

Baca juga: Calon Wisudawan UNIKI Diminta Segera Mendaftar

Ia peluk berulang-ulang dan ia cium kaki ibunya, sebagai tanda bakti dan ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada ibundanya.

Sang bunda dulunya pernah tidak mengakui Syifa sebagai anak dan dicoret dari daftar keluarga, karena ia nekat memeluk agama Islam. Padahal, keluarganya Kristen Protestan.

Nama lengkapnya Syifa Aisy Daimah Manik. Lahir tanggal 28 Juli 1988 di Lubuk Tinggi, Pak-Pak Barat, Sumatera Utara, yang berbatasan dengan Kota Subulussalam. Perempuan berparas cantik ini merupakan anak kedua dari delapan bersaudara. Ayahnya bernama Bagian Manik, ibunya Tinur Bancin.

Pasutri ini bersama anak-anaknya yang lain setiap minggu pergi ke gereja. Syifa menuturkan, waktu pertama datang ke Aceh dia diajak oleh tantenya yang sudah duluan mualaf, bahkan kawin dengan orang Aceh, dan menetap di Bireuen. Tantenya tak pernah menghalangi keinginan Syifa ke gereja. Bahkan selalu ia beri uang transport. Bahkan pada hari Minggu menjelang beberapa hari lagi akan bersyahadat sebagai mualaf, Syifa masih pergi ke gereja.

Ketika kembali dari gereja hatinya bergejolak dan dia utarakan niat kepada tantenya ingin memeluk agama Islam.

Tantenya kaget dan merasa tak percaya. Lalu, berulang-ulang ia pastikan apakah niatnya itu murni dari kesadaran hatinya sendiri.

Kemudian tantenya menyampaikan niat Syifa itu kepada perangkat desa setempat. Akhirnya, dia resmi menjadi mualaf pada hari Jumat, 30 Juli 2009 setelah disyahadatkan oleh Teungku Ismail dari Cot Tarom di Masjid Agung Bireuen.

Ketika saya tanya mengapa tertarik masuk Islam, alasananya karena tinggal di lingkungan orang yang beragama Islam.

Dia selalu mendengar suara azan subuh dan itu membuat tubuhnya merinding dan hatinya terus bergejolak ingin memeluk Islam. Selain itu, Syifa juga tertarik pada cara muslimah berpakaian yang selalu menutup auratnya, selain rapi dan indah dipandang mata.

Setelah menjadi mualaf dan memutuskan menetap di Bireuen, perempuan yang ramah dan mudah bergaul ini ikut berbagai kegiatan. Ternyata dia memiliki kemahiran dalam cabang olehraga selam.

yifa bahkan pernah mewakili Kabupaten Bireuen sebagai atlet selam pada tahun 2010 dan memperoleh dua medali emas dan satu perak. Kemudian, Syifa dipercayakan mewakili Aceh di PON Riau. Dia juga pernah mengikuti kualifikasi cabang olahraga selam di Pra-PORA Aceh Timur. Di tengah prestasi olahraganya yang mencolok, Syifa diam-diam diincar oleh seorang pemuda tampan bernama Muhammad Yani.

Ketua LLDIKTI Aceh, Prof  Dr Faisal Rani SH M Hum menyampaikan sambutan pada wisuda perdana UNIKI, Sabtu (20/11/2021).
Ketua LLDIKTI Aceh, Prof Dr Faisal Rani SH M Hum menyampaikan sambutan pada wisuda perdana UNIKI, Sabtu (20/11/2021). (SERAMBINEWS.COM/ YUSMANDIN IDRIS)

Lelaki ini tercatat sebagai pegawai Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bireuen. Setelah melewati fase taaruf yang islami, keduanya sepakat untuk melangkah ke jenjang pernikahan.

Lalu, pada tahun 2012 resmilah Syifa menjadi istri Muhammad Yani. Kebahagiaan yang dirasakan Syifa adalah sang suami selalu mendukung kegiatan positif yang diikuti Syifa. Setelah vakum dari kegiatan olahraga Syifa pun memutuskan untuk kuliah.

Pada saat itu kebetulan ada penerimaan mahasiswa baru melalui jalur masyarakat kurang mampu. Ini salah satu program dalam penerimaan mahasiswa baru Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Kebangsaan yang saat itu belum bergabung menjadi Uniki pada 30 April 2019.

Berbekal ijazah Paket C, Syifa memberanikan diri untuk melanjutkan pendidikan pada tahun 2013. Ia berharap suatu saat dapat mengubah nasib diri dan keluarganya, walaupun sejak masuk Islam tahun 2009 sampai tahun 2014 nyaris tak ada komunikasi antara Syifa dengan orang tuanya.

Untuk menghindari kesedihan dan ingin mengubah kualitas hidup ke arah yang lebih baik walaupun sempat terkendala biaya dan kebutuhan sehari-hari Syifa tetap bertekad menyelesaikan pendidikannya di akhir tahun 2017.

Seharusnya Syifa dan kawan- kawan wisuda tahun lalu, tapi karena pandemi Covid-19 prosesi wisuda ditunda. Itulah sebab, meski sudah lama tamat, Syifa baru diwisuda pada hari Sabtu lalu.

Sebanyak 18 lulusan S2 Magister Manajemen, UNIKI diyudisium, Kamis (28/10/2021).Dok UNIKI
Sebanyak 18 lulusan S2 Magister Manajemen, UNIKI diyudisium, Kamis (28/10/2021).Dok UNIKI (Dok UNIKI)

Dan, ibunya menghadiri momen penting dan bersejarah itu, Pada akhir tahun 2018 Syifa dan suami pernah pulang ke kampung orang tuanya di Pak-Pak Barat. Walaupun semula ditanggapi dingin, tapi hari demi hari, hati kedua orang tua dan saudara-saudaranya melunak.

Sepulang dari rumah orang tuanya, Syifa mulai lancar berkomunikasi dengan ayah dan ibunya meski hanya via handphone. Akhirnya, perjuangan panjang dan berkat dukungan keluarga serta teman- temannya, Syifa mampu menyelesaikan pendidikan sarjana dan lulus dengan ujian.

“Alhamdulillah, predikat ini sangat membanggakan bagi saya dan keluarga. Dari delapan kami bersaudara hanya saya yang sarjana,” kata Syifa.

Ia juga sangat bahagia karena orang tuanya hadir saat Syifa diwisuda, padahal sebelumnya sang bunda menolak untuk hadir.

“Dulu ibu tidak mengakui saya sebagai anaknya karena saya masuk Islam. Tapi ternyata kasih sayang ibu tak ada batas, seperti apa yang saya rasakan saat ini,” ujar Syifa sambil berurai air mata.

Ibu adalah sosok perempuan yang sangat berperan dalam kehidupan keluarga. Tanpa ibu kehidupan terasa hampa. Sudah menjadi hal yang biasa dalam masyarakat jika kehilangan ibu rata-rata membuat anak-anak sangat bersedih dan sulit beradaptasi dengan keadaan yang baru.

Hal ini karena biasanya seorang ibu selalu memberikan perhatian mulai dari halhal yang kecil dan mempersiapakan segala keperluan sekolah dan sebagainya.

Ibu adalah perempuan yang kuat dan sulit melupakan pasangan hidupnya demi anak yang dikasihinya.



Sumber: aceh.tribunnews.com

Disclaimer: Images, articles or videos that exist on the web sometimes come from various sources of other media. Copyright is fully owned by the source.