Guru yang Dirindukan - Bicara Penting

Latest

logo

Guru yang Dirindukan

Guru yang Dirindukan

* (Refleksi Hari Guru Nasional dan PGRI ke-76)

Oleh Dr. Murni, S.Pd,I., M.Pd, Wakil Ketua III STAI Tgk. Chik Pante Kulu

“Sebaik-baik manusia di antaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain.” (HR. Bukhari).

Hadits di atas sekan mengatakan, jika ingin mengukur sejauh mana derajat kemuliaan akhlak, maka ukurlah sejauh mana nilai manfaat diri sendiri kepada orang lain. Hal tersebut dapat ditemukan dari profesi guru.

Guru adalah orang yang sangat berjasa terhadap semua manusia, yang dengannya manusia menjadi pintar, cerdas, kreatif, inovatif, berkembang, dan lain sebagainya. Guru adalah profesi yang sangat mulia, ia adalah salah satu sebaik-baik manusia yang dibicarakan oleh manusia sekaligus guru yang termulia di muka bumi ini yakni Nabi Muhammad SAW, sebagaimana dalam satu hadits yang telah disebutkan di atas bisa dipahami bahwa, betapa guru itu memberikan manfaat begitu besar kepada siswanya.

Selain guru memberikan manfaat kepada siswanya, semuanya akan kembali untuk kebaikan guru itu sendiri. Sebagaimana firman Allah: “Jika kamu berbuat baik, sesungguhnya kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri …” (QS. Al-Israa [17]:7). Juga dalam hadits dari Abdullah bin Umar ra bahwa Rasulullah bersabda: “… dan barangsiapa (yang bersedia) membantu keperluan saudaranya, maka Allah (akan senantiasa) membantu keperluannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Upaya meningkatan kualitas, mutu dan profesionalisme guru dalam menghadapi era revolusi industri 4.0 ini mesti memiliki empat kompetensi yaitu kompetitif, kreatif, kolaboratif dan komunikatif yang didasarkan pada keimananan dan amal shaleh.

Ajaran Islam telah mengajarkan kompetisi yang dimiliki seorang Muslim di mana Allah SWT berfirman: “Demi masa, (demi waktu)”. (QS. Al-‘Ashr [103]: 1). Allah SWT mengajarkan kita untuk menghargai zaman yang dilandasi dengan keimanan, ketakwaan, setelah itu menghadirkan karya, amal shaleh dengan cara kompetitif, kreatif, kolaboratif, dan komunikatif.

Memperlihatkan segala bentuk kebaikan, karya, prestasi dengan memberikan keteladanan, panutan, uswah, sehingga kehadiran guru di kelas sangat dirindukan anak didik, bukan malah sebaliknya, dicaci maki, dibenci.

Imam al-Ghazali dan Buya Hamka memandang bahwa guru mesti ahli (menguasai ilmunya), cerdas, memiliki prinsip kritis, menjadi tauladan bagi peserta didik dan kode etik, dan lain-lain. Semua hal tersebut sangat perlu dimiliki oleh seorang guru termasuk pada zaman sekarang. Itu artinya dalam pendidikan Imam al-Ghazali dan Buya Hamka telah meletakkan dasar yang penting bagi seorang guru harus profesional dalam mendidik siswa-siswanya.

Menjadi guru yang dirindukan murid akan terus dikenang walaupun guru tersebut sudah tidak aktif lagi mengajar ataupun sudah meninggalkan dunia ini untuk selama-lamanya.

Ada beberapa hal yang menyebabkan guru ini akan selalu dirindukan siswa, baik siswa yang berakhlak mulia bahkan siswa yang nakal sekalipun di antaranya : 1). Mendidik dengan keteladanan. Rasulullah selalu mendidik anak-anak dengan contoh dan keteladanan sehingga kesan yang ditangkap oleh setiap anak adalah kelembutan budi pekerti dan kemuliaan akhlak.

Tidak pernah sekalipun beliau memukul, mencaci atau berwajah masam kepada anak. Sikap Rasulullah ini menunjukkan bahwa dunia anak-anak adalah dunia yang tidak bisa dipandang secara menyeluruh dengan perspektif orang dewasa.

2). Mendidik dengan hati. Guru bukan hanya sekadar pekerjaan atau profesi. Guru juga dimaknai sebagai pengabdian dan ibadah. mencintai dan perlakukan murid dengan tulus seperti anak sendiri.

 3). Menjadi panutan bagi anak didiknya. Guru harus menjadi inspirator, menjadi orang yang penuh dengan kasih sayang, menjadi orang yang mempunyai banyak ilmu, menjadi yang mampu menyelesaikan masalah dengan bijak, dan juga menjadi orang yang harus peka terhadap orang di sekitarnya.

4). Ramah dan selalu tersenyum. Sebagai guru harus menjunjung disiplin tetapi jangan mengabaikan sikap ramah kepada siswa. Dengan ramah dan tersenyum akan memberikan kesan guru yang ‘terbuka’. Membuka diri untuk membantu kesulitan murid. Murid juga akan merasa nyaman dan terlindungi oleh gurunya. Cara ini bisa membantu guru membimbing murid dalam mengambil keputusan yang tepat.

 5). Menguasai materi pelajaran. Guru bukanlah satu-satunya sumber belajar siswa. Mereka bisa belajar dari buku, e-book, internet, atau sumber lain yang relevan. Hanya bila guru tidak menguasai materi pelajaran, guru tidak akan maksimal membantu siswa menguasai materi pelajaran, bahkan guru itu akan menghadapi kendala perasaan grogi saat berdiri di hadapan para siswa.

6). Mengajar dengan cara berbeda. Ini penting sekali untuk membuat siswa termotivasi dalam belajar. Lakukanlah selalu cara yang berbeda setiap mengajar di kelas. Minimal seminggu sekali, ajaklah siswa belajar di luar kelas. Manfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar.

7). Responsif. Guru yang responsif berarti berusaha untuk memahami dan mempelajari karakteristik siswa. Langkah ini dilakukan agar guru tahu model belajar yang dibutuhkan siswa sehingga tujuan belajar dapat tercapai. Guru yang responsif dengan kondisi siswanya akan lebih mudah diterima.

8). Disiplin dan bertanggung jawab. Dua kata di atas mudah diucapkan tetapi sulit diterapkan. Guru harus bisa menempatkan dirinya sebagai figur dalam disiplin dan bertanggungjawab. Libatkan siswa dalam menciptakan atau membuat kesepakatan dalam menerapkan kedisiplinan dan tanggungjawab dalam belajar.



Sumber: aceh.tribunnews.com

Disclaimer: Images, articles or videos that exist on the web sometimes come from various sources of other media. Copyright is fully owned by the source.