Dampak Kecanduan Game Online terhadap Mental Anak - Bicara Penting

Latest

logo

Dampak Kecanduan Game Online terhadap Mental Anak

Dampak Kecanduan Game Online terhadap Mental Anak

OLEH AMIR HIDAYAT, S.T., Mahasiswa Magister Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala, Darussalam, melaporkan dari Banda Aceh

Belakangan ini game online semakin ramai dipergunakan, baik oleh kalangan dewasa, maupun anak-anak. Padahal, game online dapat membuat candu para penggunanya.

Waktu produktif yang seharusnya digunakan untuk belajar, bekerja, dan beribadah pun dihabiskan oleh sebagian generasi muda untuk bermain game online. Hal tersebut akan menimbulkan dampak negatif apalagi bagi kalangan anak-anak.

Game online merupakan aplikasi permainan yang terdiri atas beberapa genre yang memiliki aturan main dan tingkatan-tingkatan tertentu di dalamanya.

Bermain game online memberikan rasa penasaran dan kepuasan psikologis sehingga hal itu membuat pemain semakin tertarik dalam memainkannya. Konsumsi game online yang terlalu berlebihan dapat berdampak pada kesehatan misalnya saja gangguan pada mata. Apabila pengguna lupa waktu saat bermain, maka akan terganggu juga pola makan dan tidurnya.

Menurut World Health Organization (WHO) terdapat tiga dampak dari kecanduan game online, yaitu menarik diri dari lingkungan, mudah kehilangan kendali, dan tak peduli dengan kegiatan lain di sekitarnya.

Selain itu, dampak yang mungkin ditimbulkan dari maraknya game online adalah para pemain yang gemar bermain game online selain duduk dalam posisi yang sama dengan otot- otot tubuh berada dalam posisi statis beresiko terhadap kesehatan. Terdapat sebagian orang tua yang menjadikan bermain game online sebagai alat penenang bagi anak. Padahal, apabila hal itu dilakukan secara berulang-ulang maka anak tersebut akan terbiasa dengan game online.

Pemain game online pada level candu bisa merenggut dunia nyata penggunanya. Mereka telah membangun dunianya sendiri, kurangnya kepekaan terhadap dunia sekelilingnya. Bahkan, apabila mereka meninggalkan game yang sedang berlangsung serasa menjadi dosa besar, karena bisa mengganggu efektivitas permainan. Dikarenakan hal itu, tak jarang bila banyak di antara mereka berhenti merespons orang lain demi tetap berlanjutnya permainan.

Dalam konteks ini, kecanduan game online sudah meruntuhkan eksistensi penggunanya dalam ruang-ruang sosial.

Kecanduan akan menyebabkan ketergantungan yang berujung pada seseorang lupa terhadap hakikat dirinya dan keberadaannya sebagai makhluk Tuhan. Lebih bahaya lagi, game online sudah mengubah pola hidup banyak anak muda. Main game memang tidak salah. Namun, jika sudah sampai kecanduan lambat laun akan merusak mental dan kehidupan sosialnya.

Isi pada game online juga belum tentu baik, ada game online yang membatasi usia penggunanya seperti kepada anak-anak, tapi anak-anak masih bisa memain atau mengakses tanpa dampingan orang tua. Padahal, permainan tersebut dibatasi karena terdapat adegan-adegan yang seharusnya tidak dipertontonkan untuk anak usia dini, bisa saja isinya mengajarkan anak untuk berkelahi atau hal tidak patut lainnya. Terlebih apabila anak-anak sampai meniru adegan tersebut ke dunia nyata akan membahayakan untuk dirinya dan juga orang lain.

Game online mempunyai sifat seductive (menggairahkan), yaitu membuat sesorang bisa merasa bergairah memainkannya hingga menimbulkan perilaku adiksi yang mana seseorang rela terpaku di depan monitor berjam-jam lamanya. Terlebih lagi, permainan pada game online sudah dirancang untuk suatu reinforcement atau penguatan yang bersifat ‘segera’ ketika permainan berhasil melampaui target tertentu. Sehingga, game online membuat pemainnya semakin tertantang dan terus-menerus menekuninya. Hal tersebut dapat mengakibatkan anak tidak memiliki skala prioritas dalam menjalani aktivitas sehari-hari (Hawadi, dalam Madyanti, 2011).

Penelitian oleh Gentile (2009) di Amerika Serikat menunjukkan bahwa 5% remaja  yang usia 8-18  tahun  memperlihatkan gejala kecanduan video game yang mengarah  pada  perilaku  patologis,  di antaranya  adalah  masalah  mental  emosional.

Hal-hal tesebut juga dapat memengaruhi perkembangan emosi anak. Kondisi psikologis anak yang kecanduan game online akan terganggu, misalnya kesal jika diatur dalam belajar, tetapi gembira ketika pulang sekolah lebih awal karena ingin bermain game online.

Anak yang sudah dalam pengaruh game online ketika diperingatkan orang tuanya untuk berhenti main dia akan marah dan memberontak. Bahkan, tidak jarang anak-anak melawan dengan berani memukul dan mengeluarkan kata-kata kasar kepada orang tua atau orang di sekitarnya.

Kecanduan game online juga menyebabkan kemampuan motorik terhambat. Hal itu dapat terjadi karena ketika bermain game online anak cenderung hanya duduk atau tiduran saja, kurang melakukan aktivitas yang membuat mereka banyak bergerak.

Hal-hal yang tidak diinginkan tersebut bisa dibatasi. Peran orang tua sangat berpengaruh. Orang tua bisa membatasi waktu bermain game, misalnya satu jam sehari karena ketika anak sudah bosan atau jenuh saat belajar mereka pasti akan butuh hiburan salah satunya dnegan memainkan game online. Terdapat banyak faktor yang menyebabkan anak-anak sekarang lebih cenderung memilih kegiatan sebagai hiburan dengan bermain game online dibandingkan dengan anak dahulu yang lebih menyukai olahraga. Salah satunya yaitu waktu yang sempit di sela-sela jadwal harian yang padat memaksa mereka untuk memilih jenis refreshing yang cepat, mudah, dan murah.

Selain itu, game online tidak tergantung pada kehadiran sejumlah teman karena bisa dilakukan seorang saja, yaitu diri sendiri, tidak seperti refreshing olahraga yang membutuhkan kehadiran teman dalam jumlah tertentu (Setiawan, 2018).

Selain itu, orang tua dapat mendampingi anak ketika bermain game agar tidak memainkan hal-hal yang tidak baik. Terlalu memaksakan kehendak anak untuk terus belajar karena jika anak sudah bosan dengan apa yang ia lakukan juga tidak baik, karena konsentrasi dan emosi anak sulit untuk dikendalikan, akibatnya anak akan tidak mematuhi perkataan orang tua. Namun, apabila anak sudah melanggar aturan, orang tua dapat memberikan konsekuensi ringan supaya anak tidak mengulangi lagi perbuatannya. Ajari juga anak untuk melakukan hal-hal atau aktivitas yang menyenangkan walau hanya di rumah, contohnya adalah aktivitas membuat karya menggambar di rumah, memasak, berkebun, melakukan kegiatan olahraga semacam bersepeda dan masih banyak lagi.

Selain itu, ajak anak untuk melakukan aktivitas olahraga, aktivitas fisik berguna untuk mengurangi berbagai risiko anak terkena penyakit.



Sumber: aceh.tribunnews.com

Disclaimer: Images, articles or videos that exist on the web sometimes come from various sources of other media. Copyright is fully owned by the source.