Butuh Gerakan dan Gebrakan Pemuda Aceh Mengkritisi Kebijakan Pemerintah Daerah yang Keliru - Bicara Penting

Latest

logo

Butuh Gerakan dan Gebrakan Pemuda Aceh Mengkritisi Kebijakan Pemerintah Daerah yang Keliru

Butuh Gerakan dan Gebrakan Pemuda Aceh Mengkritisi Kebijakan Pemerintah Daerah yang Keliru

Fadhli Espece, Mahasiswa Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 

Oleh: Fadhli Espece *)

Dalam beberapa waktu terakhir, semacam ada kekosongan dalam diskursus ruang publik di Aceh.

Diskursus ruang publik yang dimaksud adalah wacana tentang sosial politik atas dinamika dan perkembangan isu yang sedang terjadi di Aceh.

Salah satu kekosongan yang penulis maksud di atas adalah nihilnya kehadiran anak muda Aceh secara representatif untuk merespon dan mengkonstruksi suatu wacana atas berbagai problematika yang sedang terjadi di Aceh.

Kesunyian ini di satu sisi adalah kondisi yang diharapkan oleh kekuasaan agar kebijakan-kebijakannya yang keliru dapat berjalan tanpa hambatan dan rintangan.

Tapi di sisi lain, absennya anak muda dalam diskursus ruang publik adalah pertanda buruk bagi demokrasi yang didamba-dambakan.

Baca juga: Hikayat Prang Sabi, Keneubah Jroeh Ka Trep Gadoeh, Ini Syairnya yang Munculkan Semangat Perjuangan

Ruang publik yang seharusnya menjadi saluran yang menghubungkan antara state (negara-pemerintah) dan society (masyarakat) kini justru terlihat pincang.

Beberapa pihak mengambinghitamkan dana hibah yang dulu sempat dibagi-bagikan oleh Gubernur Aceh kepada 100 Organisasi Kemasyarakatan & Pemuda (OKP).

Istilahnya “suntik vaksin” tersebut dinilai telah berhasil “mengondisikan” atau paling tidak, menekan daya kritis dari kalangan mahasiswa dan pemuda terhadap kebijakan Pemerintah Aceh.

Sejak saat itu, publik seperti kehilangan anak mudanya yang berani berhadap-hadapan dengan kekuasaan.

Sebenarnya asumsi di atas tidak sepenuhnya tepat, meskipun juga sama sekali tidak boleh kita abaikan.

Terlepas dari “dana hibah effect”, kondisi pandemi yang sampai hari ini belum bisa bersahabat menjadi momok yang sangat menghancurkan bagi dunia gerakan di Aceh.

Baca juga: Penyidik KPK Periksa Kondisi KMP Aceh Hebat 2 Selama Enam Jam di Pelabuhan Ulee Lheue

Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang sempat bertingkat-tingkat dan berlarut-larut telah mempersempit ruang gerak bagi seluruh lapisan masyarakat.

Keterbatasan ini pada akhirnya juga ikut berdampak bagi regenerasi dan kaderisasi Anak Muda Aceh.

Lantas apa yang perlu dilakukan sekarang?

Rekonsolidasi ide dan gagasan

Meski sempat mempersempit ruang gerak masyarakat di ruang publik dan sempat pemberlakuan PPKM baru-baru ini mulai melonggar dan levelnya semakin menurun.

Dalam konteks Aceh hari ini, pemberlakuan PPKM bisa dikatakan hampir tidak lagi signifikan.

Hari-hari belalu terlihat seperti dalam keadaan normal. Keadaan ini seharusnya dapat dimanfaatkan sebagai momentum rekonsolidasi ide dan gagasan dalam tubuh gerakan anak muda di Aceh.

Kondisi new-normal yang sedang dihadapi ini bisa menjadi titik balik untuk menebus semua keterbatasan dalam regenerasi dan kaderisasi yang sempat macet selama pandemi covid memuncak.

Apa yang telah terdegradasi di masa lalu dapat diperbaiki kembali dengan duduk dan berembuk bersama.

Baca juga: VIDEO Penyidik KPK Menyelinap dalam Dek Kapal KMP Aceh Hebat 1 di Calang, Ada Apa?

Konsolidasi ini menjadi momentum penting bagi persatuan anak muda Aceh setelah satu dekade terakhir terlihat gagap dalam menghadapi realitas.

Pentingnya konsolidasi ide dan gagasan ini adalah untuk menyamakan persepsi dan menyusun ulang konsepsi arah juang Anak Muda Aceh agar tidak lagi tergiring oleh isu yang sedang berkembang di daerah-daerah lain.

Kita seringkali terjebak pada isu yang telah bergaung di nasional dan terkadang justru tidak memiliki relevansi dengan konteks keacehan.

Pada akhirnya, kita hanya sekadar menjadi “tim hore” dan peramai terhadap isu-isu yang kita sendiri tidak ikut terlibat dalam produksi wacananya.

Ruang publik harus dimanfaatkan sebagai ruang demokratis untuk mewacanakan ide dan gagasan tanpa adanya intervensi dari pihak manapun, termasuk kekuasaan.

Anak muda Aceh perlu membangun gerakan representatif yang terlibat dalam setiap kebijakan yang berhubungan dengan Aceh.

Paling tidak harus dimulai dengan membentuk perkumpulan ruang-ruang diskusi kultural untuk menjembatani antara pikiran dan realitas di lapangan.

Baca juga: Bunyi Sirine Saat Mesin Utama KMP Aceh Hebat 1 Mati di Tengah Laut Kagetkan Penumpang

Ada banyak hal yang bisa dilakukan oleh anak muda dalam ruang publik yang selama ini tidak terkonsolidasi dengan baik.

Keterlibatan anak muda, baik itu secara individu maupun dari lintas organisasi sudah menjadi tuntutan zaman.



Sumber: aceh.tribunnews.com

Disclaimer: Images, articles or videos that exist on the web sometimes come from various sources of other media. Copyright is fully owned by the source.