Saat Teman Ternyata Saudara - Bicara Penting

Latest

logo

Saat Teman Ternyata Saudara

Saat Teman Ternyata Saudara

OLEH DIVA NADIA, Mahasiswi Program Studi Ilmu Politik FISIP UIN Ar-Raniry dan Anggota Komunitas Menulis Pematik, melaporkan dari Meureudu, Pidie Jaya

Seperti biasa, di waktu luang perkuliahan saya sibuk membantu orang tua dan melakukan berbagai aktivitas lainnya. Akhir-akhir ini saya menyibukkan diri untuk berjualan kerupuk tempe, sekali goreng sampai 2 kg kerupuknya. Lumayan, cukup untuk membeli paket internet demi kelancaran perkuliahan.

Pada hari itu, tepatnya tanggal 29 September, kebetulan semua kerupuk jualan saya sudah laku.  Paginya saya menjemur kerupuk terlebih dahulu sekitar tiga jam. Hal itu saya lakukan biar waktu penggorengan kerupuknya mengembang dengan baik.

Kemudian, waktu saya sedang mengemas kerupuk terdengar suara notification pesan WhatsApp (WA) masuk. Tapi, handphone masih saya biarkan saja agar pekerjaan saya selesai terlebih dahulu.

Kemudian, setelah beberapa saat seusai kerupuk terkemas dengan rapi, saya pun membuka WA. Ternyata ada pesan dari teman kuliah, namanya Juhra. Dalam pesan tersebut katanya dia ingin ke Banda Aceh, lalu dia tanya saya, “Nggak ke Banda?”

Saya memang sudah merencanakan jauh-jauh hari sebelum Juhra menanyakannya, karena memang ada urusan penting di Banda Aceh. Lalu saya jawab belum tahu dan mungkin perginya dalam bulan Oktober. Juhra juga punya kepentingan, dia ingin mengikuti ujian TOEFL di kampus.

Namun, pada akhirmya Tuhan berkata lain. Ternyata di antara kami berdua tidak ada yang jadi berangkat ke Banda Aceh. Kemudian, tepat 11 Oktober Juhra mendapatkan panggilan di telepon genggamnya, ternyata saudaranya yang di Pidie Jaya menelepon dan mengabarkan bahwa abang kandungnya sedang dirawat di rumah sakit.

Lalu Juhra yang tinggal di Benar Meriah bersama keluarganya bergegas menuju Pidie Jaya. Sesampainya di Pidie Jaya pukul 15.00 WIB mereka semua kaget melihat tanda merah (plastik keresek merah) dipasang di pinggir jalan dan dipenuhi dengan tenda, serta orang-orang yang memang sengaja menunggu ketibaan mereka. Juhra langsung bisa menebak, pasti ada yang meninggal nih.

Semuanya panik dan menangis, karena niat semula ingin membesuk abangnya di rumah sakit, kini yang dilihat oleh Juhra ternyata mayat yang terbujur kaku. Tanpa sempat bertanya banyak, Juhra pun jatuh pingsan. Lama sekali ia tak sadarkan diri. Almarhum abangnya bagi Juhra adalah sosok yang peramah dan sangat baik. Orang-orang yang mengenalnya juga begitu, sehingga banyak sekali orang yang datang takziah dan mendoakan almarhum.

Pada subuh itu, tepatnya 2 Oktober pukul 05.23 WIB, Juhra pun membuat status di WA-nya menggunakan foto almarhum abangnya dengan caption yang penuh dengan kesedihan. Ia juga memuji almarhum abangnya dengan segala kebaikannya.  

Sebelum almarhum berpulang, ia selalu memberi nasihat kepada Juhra melalui telepon dan berniat ingin membelikan tas kuliah yang katanya sangat cantik di sebuah toko.

Waktu itu saya tidak terlalu memperhatikan curahan hati Juhra di grup WA. Setelah itu, pada pukul 08.39 WIB masuk notif di Grup WhatsApp Cewek Syar’iah dan ternyata itu adalah ucapan turut berduka yang diucapkan oleh Eka, disusul oleh Rina, Jainatul, Resti, Imelda, Selvi, Sartika, dan juga Siti. Saat itu saya merasa sangat terkejut dan sedih, karena Juhra belum sempat memberi tahu tentang kematiannya abangnya. Padahal, lokasi rumah yang ditempati oleh almarhum sangat dekat dengan desa saya.

Seketika itu juga dengan penuh kekhawatiran dan kesedihan saya bergegas menuju ke rumah duka. Sesampai di sana saya terkejut dan bingung campur heran karena ternyata rumah tempat kemalangan itu adalah rumah saudara saya. “Terus, kenapa bisa lokasinya di sini?” saya membatin. Setelah itu, saya tanpa pikir panjang lagi langsung masuk ke rumah tersebut dan ternyata benar di dalam ada Juhra.

Tanpa banyak basi-basi saya langsung bersalaman dengan saudara yang lainnya. Saya lihat ibu dari almarhum dengan penuh tangisan tak ada hentinya. Padahal, sejak sebelum hari ‘H’ kejadian ibu almarhum memang ingin pergi ke Pidie Jaya untuk membesuk sang anak. Namun, itu juga sepertinya Dia Yang di Atas Sana sudah menakdirkan rencana lain, sehingga pada akhirnya tetap bisa berjumpa meski sudah dalam keadaan yang berbeda.

Kisah jumpa dengan Juhra      

Karena saudara yang lain menanyakan kapan kami bertemu dan kenapa kami tidak tahu bahwa sebenarnya kami bersaudara? Saya jawab dengan rasa malu: Kami sebenarnya berteman sejak akhir tahun 2019. Kami berjumpa pada hari pertama PBAK, tepatnya di lapangan UIN Ar-Raniry Darussalam, Banda Aceh, dan kebetulan kami memang satu jurusan. Sejak saat itulah kami saling bertukar nomor WA hingga di hari seterusnya seolah kami seperti sudah lama mengenal, bertukar cerita, dan juga curhat, karena kami saling percaya satu sama lain.

Kami juga sering diskusi tentang materi kuliah yang memang belum sepenuhnya kami mengerti. Terkadang di waktu luang--walau tak saling jumpa secara tatap muka--saya selalu menyuruh Juhra membacakan ayat-ayat Al-Qur’an karena suaranya sangat merdu.

Juhra juga sempat bercerita bahwasanya almarhum ayahnya orang Pidie Jaya, tapi dia tidak jelaskan dengan detail kampung ayahnya, sehingga saya pun tak bisa memastikan hal yang sebenarnya bahwa kami bersaudara atau tidak.

Saya juga sempat menanyakan pada ibu tentang ayah Juhra dan ternyata memang benar seperti cerita ibu ayah Juhra orang Pidie Jaya, bukan Bener Meriah. Namun, karena ketidakjelasan alamat yang Juhra kasih, saya pun mengabaikannya. Mungkin saja ayah Juhra adalah orang yang berbeda dari cerita ibu saya. Hingga akhirnya pada hari kedua almarhum abangnya pergi meningalkan kami, saat itulah kami resmi tahu bagaimana persaudaraan kami sesungguhnya.

Setelah buka silsilah, ternyata Juhra benar saudara saya. Ayah Juhra saudara dekat nenek saya.



Sumber: aceh.tribunnews.com

Disclaimer: Images, articles or videos that exist on the web sometimes come from various sources of other media. Copyright is fully owned by the source.