Kerajaan Seuneuam dan Lipatan Sejarah Tersembunyi di Nagan - Bicara Penting

Latest

logo

Kerajaan Seuneuam dan Lipatan Sejarah Tersembunyi di Nagan

Kerajaan Seuneuam dan Lipatan Sejarah Tersembunyi di Nagan

OLEH CHAEROL RIEZAL, Mahasiswa S-3 Pendidikan Sejarah Universitas Sebelas Maret Surakarta asal dari Nagan Raya, melaporkan dari Alue Bilie, Nagan Raya

Ketika Harian Serambi Indonesia menurunkan berita tentang satu meriam peninggalan Kerajaan Seuneuam di Darul  Makmur dinyatakan telah  hilang (6/8/2017), sesungguhnya ada pesan yang cukup kuat yang hendak diteruskan oleh Serambi kepada Pemerintah Kabupaten Nagan Raya, khususnya Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disbudparpora) Nagan Raya.

Setidaknya, ada dua pesan kuat yang dapat ditafsir dari berita tersebut. Pertama, oknum dalam Disbudparpora Nagan Raya tampaknya memiliki penyakit amnesia sejarah, sehingga berita itu menunjukkan ketidakmampuan mereka dalam mengelola cagar budaya di Nagan Raya.

Kedua, mengingat instansi tersebut memiliki tupoksi untuk melestarikan sejarah dan budaya daerah, ternyata dalam praktiknya tidak dijalankan secara maksimal.

Paling tidak, dua pesan itulah yang dapat ditafsir dari berita tersebut. Pesan itu sekaligus menguatkan dugaan bahwa Disbudparpora Nagan Raya telah gagal menerjemahkan visi dan misi Pemerintahan Jamin Idham dan Chalidin Oesman (Jadin), khususnya pada petikan terakhir, “Budaya Tajaga.”

Dugaan tersebut tidak sekadar dilontarkan begitu saja, melainkan punya beberapa alasan. Bahwa instansi di Nagan Raya itu sangat minim kepeduliannya terhadap pelestarian ‘local wisdom’ di Nagan Raya. Hal itu pun mengisyaratkan demikian. Terbukti, hilangnya satu dari dua meriam peninggalan Kerajaan Seuneuam di Darul Makmur, menjadi indikasi kuat atas dugaan tersebut.

Lebih mengecewakan lagi, berdasarkan data yang dirilis dalam webiste sistem registrasi nasional cagar budaya Kemdikbud, ternyata Disbudparpora Nagan Raya tidak pernah mendaftarkan objek cagar budaya yang ada di kabupaten berjuluk Rameune itu. Sehingga, kita patut bertanya: Apakah Disbudparpora Nagan Raya tidak paham cara mengajukannya atau memang tidak ada cagar budaya di Nagan Raya. Ironisnya, kepedulian itu justru datang dari aparat militer Darul Makmur yang menyelamatkan meriam tersebut. Padahal, jelas itu bukanlah pekerjaan yang menjadi tugas pokok TNI.

Oleh karena itu, bupati perlu mengadakan rapat internal dengan jajaran dinas terkait untuk mempertanyakan bagaimana cara mereka dalam menerjemahkan visi misi Pemerintahan Jadin, khususya terkait dengan misi “Budaya Tajaga” di Nagan Raya. Hal itu menjadi lebih penting, mengingat belakangan ini Pemerintahan Jadin telah mengesahkan Qanun tentang Susunan Organisasi Majelis Adat Aceh (MAA) dan Majelis Pendidikan Daerah (MPD) Kabupaten Nagan Raya.

Hadirnya MAA dan MPD  Nagan Raya menjadi kekuatan tambahan bagi personel dinas terkait dalam menjalankan tugas rekonstruksi dan inventarisir nilai-nilai budaya dan sejarah Nagan Raya. Maka dari itu, tidak ada alasan lagi untuk tidak mendokumentasikan sejarah dan budaya Nagan Raya.

Tersembunyi dalam lipatan

Kerajaan Seuneuam  merupakan lipatan sejarah yang belum terungkap di Nagan Raya. Hingga tulisan ini diterbitkan, banyak sekali cerita yang bertebaran dalam masyarakat, terutama di Darul Makmur mengenai desas-desus riyawat Kerajaan Seuneuam atau disebut juga Ujong Raja.

Mengingat sifatnya yang masih misteri dan belum terungkap, Kerajaan Seuneuam sangat rentan dibalut mitos  dan cerita rakyat hingga menimbulkan narasi sejarah yang cukup menggelitik untuk didengar. Misalnya, dalam buku berjudul “Adat dan Hukum Adat Nagan Raya” yang ditulis Prof Jamaluddin dan enam penulis lainnya, dikatakan bahwa ‘kue karah’ di Nagan yang berbentuk segitiga itu menggambarkan tiga lambang kerajaan di Nagan Raya: Beutong, Seunagan, dan Seuneuam.

Di tangan orang seperti Prof  Jamaluddin dan enam penulis lainnya itu, sejarah Kerajaan Seuneuam akan menjadi tumpukan mitos yang tidak tertafsirkan. Hal itu persis seperti yang digambarkan oleh mereka bahwa kue karah berbentuk segitiga merupakan representatif  dari tiga kerajaan di Nagan Raya dan satu di antaranya adalah Seuneuam. Miris memang, seakan kue karah adalah alat bukti sejarah yang dapat diuji secara metodologis.

Beda halnya ketika sebuah kerajaan, Aceh Darussalam misalnya, merepresentasikan kemegahan dirinya lewat sebuah mata uang atau contoh terdekat adalah Cap Sikeureung. Oleh karena itu, gaya penulisan sejarah Kerajaan Seuneuam yang diusung oleh Prof  Jamaluddin dkk, melalui representasi kue karah, sepenuhnya tidak dapat diterima dan batal secara metode historiografis. Apalagi, kalau mengacu pada tingkat konsentrasi ilmu sejarah dan tradisi para sejarawan.

Kendati demikian, saya dapat memahami apa yang disampaikan Prof  Jamaluddin dkk itu. Hal ini tidak terlepas dari minimnya literatur yang membahas  Kerajaan Seuneuam. Bahkan, saya sendiri merasa sangat kesulitan untuk mengakses dan mencari informasi tentang Kerajaan Seuneuam, baik dalam buku, jurnal, maupun mesin pencari Google, karena memang minim informasi tentang Seuneuam.

Mengutip beberapa berita media, disebutkan bahwa lokasi penemuan meriam oleh warga Darul  Makmur, diduga kuat berada dalam kawasan Kerajaan Seuneuam, yang ketika itu berada di bawah pemerintahan Sultan Malik Al-Fakikh (1487-1530) di mana Ujong Raja dijadikan pusat pemerintahannya.

Demikian secuil informasi tentang Kerajaan Seuneuam yang hingga sekarang belum juga terkuak identitasnya. Pada saat bersamaan, cerita lisan tentang Kerajaan Seuneuam cukup banyak bertebaran di kalangan masyarakat Darul Makmur. Hanya saja, riwayat Seuneuam masih tersembunyi dalam lipatan sejarah Nagan Raya dan belum terdokumentasikan.

Membayangkan Nagan yang sedang didesain sebagai kawasan industri pabrik sawit di pantai barat Aceh, rasanya Kerajaan Seuneuam akan tetap berada pada posisinya yang sekarang, bahkan terancam tergusur akibat maraknya pembukaan lahan sawit. Padahal, Seuneuam punya potensi besar untuk dikembangkan sebagai kawasan ragam objek wisata, lantaran lokasinya berdekatan dengan pantai.

Kendatipun demikian, saya berasumsi bahwa jika Pemkab Nagan Raya di bawah komando Jamin Idham berhasil menguak lipatan sejarah yang tersembunyi di dalam Kerajaan Seuneuam, apalagi menerbitkan dalam bentuk buku sejarah daerah dan mengadakan seminar untuk menguji tingkat keilmiahannya, maka Jamin Idham beserta jajarannya dapat mengangkat kepala dengan pongah dan seraya mengatakan bahwa janji kami tentang “Budaya Tajaga” telah ditunaikan.

Sebaliknya, jika nanti sampai berakhirnya masa Pemerintahan Jadin, Kerajaan Seuneuam belum juga terkuak dan masih tetap berada dalam lipatan sejarah yang tersembunyi, maka jangan heran kalau suara sumbang dari masyarakat Nagan Raya akan nyaring terdengar. Mereka lalu menyalahkan Pemerintahan Jadin, karena ketidakmampuan pemkab menjaga kearifan lokal Nagan Raya.



Sumber: aceh.tribunnews.com

Disclaimer: Images, articles or videos that exist on the web sometimes come from various sources of other media. Copyright is fully owned by the source.