Dari Aceh ke Bengle untuk Investasi Akhirat - Bicara Penting

Latest

logo

Dari Aceh ke Bengle untuk Investasi Akhirat

Dari Aceh ke Bengle untuk Investasi Akhirat

OLEH SITI RAHMAH, S.H., M.Kn., Pendiri Warung Penulis, melaporkan dari Karawang, Jawa Barat

Pada tanggal 2 Oktober 2021 saya dari Jakarta menuju Dusun Bengle, Dewisari, Kecamatan Rengasdengklok, Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Pagi pukul 08.00 WIB, saya dijemput oleh Pak Janu Kurniawan, Direktur Dompet Sejuta Harapan (DSH).

Ini pertama kali saya bertemu dengan Pak Janu. Selama ini kami berkomunikasi hanya melalui handphone. Pertemuan ini sudah kami agendakan seminggu sebelumnya. Perjalana dari Jakarta ke lokasi memakan waktu tiga jam.

Memasuki Dusun Bengle terlihat hamparan sawah menghijau di kiri dan kanan jalan. Sebelum menuju Dusun Bengle, saya diajak berkunjung ke Rumah Bersejarah Rengasdengklok yang terletak tak jauh dari Dusun Bengle. Rumah Sejarah Djiauw Kie Siong. Di atas pintunya bernuasa Indonesia. Ada lambang burung Garuda dengan latar belakang bendera Merah Putih. Di bawahnya tertulis“ Rumah Sejarah Djiauw Kie Siong.” Memasuki rumah itu terlihat foto-foto Bung Karno dan Bung Hatta. Rumah ini digunakan oleh para pemuda pada 16 Agustus 1945 untuk meminta Soekarno dan Mohamad Hatta agar segera memproklamasikan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Setelah mengunjungi Rumah Bersejarah Rengasdengklok, barulah kami jejakkan kaki ke Dusun Bengle. Jalan menuju Dusun Bengle sangat sempit. Hanya muat dilalui oleh satu mobil. Jika berpapasan dengan mobil lain maka kita harus berhenti untuk saling bergantian jalan. Tapi saya tak ambil pusing dengan itu karena lebih menikmati suasana sawah yang hijau membentang di sepanjang kiri dan kanan jalan.

Dusun Bengle ini mirip pulau karena dikelilingi oleh sawah. Ini pertama kali saya pergi ke Bengle. Begitu tiba di Bengle, dari jauh sudah terlihat musala berwarna hijau daun berdiri kokoh. Terlihat anak-anak berpakaian muslim dan muslimah ramai duduk di musala. Ibu-ibu terlihat berkumpul sedang merapikan menu makanan. Begitu keluar dari mobil saya disambut oleh seorang ibu. Namanya, Yani Nurani. Dia guru mengaji di Nusala Rosmiati binti Hasan.

"Baru sampai, Bu?” tanyanya. Saya jawab, "Ya." Kami langsung bersalaman, diikuti oleh adik-adik, murid yang mengaji di musala.

Mereka bersalaman dengan saya satu per satu. Ibu-ibu dan bapak-bapak terlihat mulai berkumpul di musala. Saya tiba di sana menjelang shalat zuhur. Saya dan rombongan kemudian shalat berjamaah di musala. Musala ini berukuran 17 x 7 meter, dibangun di atas tanah wakaf milik Pak Karsom.  Musala ini sangat indah.  Ornamen pintu Aceh-nya yang berwarna kuning emas terpajang indah di dinding depan musala. Di sisi kiri dan kana musala terdapat jendela kaca. Pintunya juga dari kaca. Plafon gipsum terpasang rapi. Beberapa kipas angin terpasang di beberapa sudut musala. Batu prasasti melekat indah didinding luar musala. Semua pengerjaan sudah selesai. Di dinding luar sebelah kanan terlihat spanduk kecil bertuliskan Peresmian Musala Rosmiati binti Hasan.

Dusun Bengle sebelumnya memiliki musala yang dibangun tahun 2005. Enam tahun yang lalu rusak berat. Dindingnya sudah mulai retak. Atapnya sudah hampir roboh.

"Saya khawatir ketika shalat berjamaah berlangsung atap musala roboh,” kata Pak Wasid, suami Bu Yani Nurani yang juga guru mengaji di musala. Masyarakat di sini sudah lama mendambakan musala. Jumlah penduduknya ada 900 KK yang terdiri atas 2.300 jiwa. “Saya sangat gembira karena sekarang sudah ada Musala Rosmiati binti Hasan. Rasa khawatir akan roboh atap musala hilang sudah,” kata Pak Wasid tertawa.

“Saya cari donatur ke mana-mana tidak dapat. Alhamdulillah, ada donatur dari Aceh yang membantu. Kami sangat bersyukur,” tambahnya.

Pembangunan musala ini difasilitasi oleh DSH. Saya mengirimkan uang untuk pembangunan musala ke rekening DSH. DSH kemudian berkoordinasi dengan warga sekitar dalam pembangunannya.

Mereka kemudian membentuk panitia pembangunan musala. Pak Wasid ketua panitianya. “Masyarakat membantu makanan dan tenaga,” kata Pak Wasid. Sebagian besar penduduk di sini bekerja sebagai petani.

Pada tanggal 2 Oktober 2021, bertepatan dengan Hari Batik Nasional, Musala Rosmiati binti Hasan pun diresmikan. Awalnya saya datang hanya untuk serah terima musala. Namun, warga Dusun Bengle ternyata menyiapkan peresmian seperti acara seremoni proyek besar. Ada acara sambutan dari perangkat desa dan tokoh agama. Pak Karsom yang mewakafkan tanahnya juga hadir. Beliau juga diminta memberikan kata sambutan, sama seperti saya. Setiap yang memberikan kata sambutan berkali-kali mengucapkan terima kasih dan doa. Tanda rasa syukur.

Warga Bengle juga menyediakan nasi tumpeng lengkap dengan lauk dan ayam panggang dalam peresmian tersebut. Aneka kue, buah, dan serabi khas Dusun Bengle menjadi menu dalam acara tersebut.  Setiap warga yang hadir kebagian nasi kotak. Khusus untuk anak-anak dijatahi nasi bungkus. Acaranya sangat meriah, saya tidak terpikir bakal dibuat acara seremoni sehebat itu. Warga Dusun Bengle yang konon pendidikannya tidak tinggi bisa menyiapkan acara sekeren itu. Warga Bengle sudah seperti event organizer (EO) profesional dalam menghelat acara. Kegiatan yang mereka gelar mirip seperti acara bupati sedang meresmikan sebuah bangunan penting.

Rasa bahagia dan kepuasan tidak bisa saya ungkapkan dengan kata-kata. Semua yang saya impikan sudah terwujud. Investasi akhirat, sudah ada. Minimal kalau sudah tidak ada di dunia ini lagi, masih ada investasi yang bisa mengalirkan pahala untuk saya dan ibu. Musala ini saya beri nama Rosmiati binti Hasan, nama ibu saya.

Sejak pertama didirikan, saya sudah berniat mendedikasikan musala ini untuk ibu. Ibu selalu bilang pada saya, "Uang tidak akan dibawa mati, nanti kalau kamu tidak ada lagi, yang nikmati kami. Belum tentu juga orang yang hidup ingat sama kamu terus."

Saya suka tertawa kalau ibu bilang seperti itu. Itu cara ibu mengingatkan saya. Sama seperti musala yang saya hadiahkan untuk ibu. Saya kemudian minta izin kepada suami, Bang Redha, agar setuju uang tabungan saya dipakai untuk membangun musala. Seorang teman bertanya, “Kenapa tidak beli mobil satu lagi baru buat musala?”

Saya hanya bisa menjawab, “Karena kematian itu terlalu misteri. Juga terlalu dekat. Pasti datang, tapi tidak pernah tahu kapan menghampiri kita.”

Hal yang tidak saya duga lagi adalah acara ini dihadiri oleh teman saya yang supersibuk, Tenaga Ahli DPR-RI dari Klaten, Pak Widodo yang merupakan salah satu Pembina DSH. Juga hadir lima orang dari tim DSH, direktur, manager program, HRD, dan staf partnership. Saya baru pertama sekali bertemu tim DSH yang selama ini mengurusi pembangunan musala ini.



Sumber: aceh.tribunnews.com

Disclaimer: Images, articles or videos that exist on the web sometimes come from various sources of other media. Copyright is fully owned by the source.