Ali Mughayat Syah; Pelopor Kedigdayaan Islam di Asia Tenggara - Bicara Penting

Latest

logo

Ali Mughayat Syah; Pelopor Kedigdayaan Islam di Asia Tenggara

Ali Mughayat Syah; Pelopor Kedigdayaan Islam di Asia Tenggara

OLEH T. M. ICHSAN, penulis buku "Memori Kolektif Aceh: Membangkitkan Spirit Keacehan di Era Kontemporer", terbitan PT  Bandar Publishing, melaporkan dari Banda Aceh

Pada tahun 1453, Sultan Turki Usmani, Muhammad Al-Fatih, membuktikan keabsahan nubuat (wahyu yang diturunkan kepada) Nabi Muhammad saw mengenai penaklukan Konstantinopel, sebuah kota terpenting dan terkuat di dunia.

Baginda Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya akan dibuka Kota Konstantinopel, sebaik-baik pemimpin adalah yang memimpin saat itu dan sebaik-baik pasukan adalah pasukan perang saat itu.” (HR. Imam Ahmad 4/235, Bukhari 139).

Penaklukan ini dicatat sebagai sebuah penaklukan yang mengubah dunia.

Hal ini sejurus dengan beberapa misi Sultan Al-Fatih: Ingin melebarkan dan memperkukuh pengaruh kekuatan Islam di panggung internasional; mengakhiri dominasi Byzantium Romawi Timur di Timur Tengah; serta menguasai perdagangan internasional di wilayah Konstantinopel, dengan membatasi kegiatan bangsa-bangsa Kristen di Laut Tengah.

Oleh sebab tekanan politik dan ekonomi yang melanda bangsa-bangsa Barat, kemudian dibarengi dengan semangat melanjutkan Perang Salib, maka demi keberlangsungan peradabannya, mereka harus memutar otak, berpikir untuk mencari belahan ‘Dunia Baru’.

***

Awal dimulainya agenda imperialisasi ini, ditandai dengan penandatanganan kesepakatan di Tordesillas (Spanyol) pada 7 Juni 1494 yang dikenal dengan “Perjanjian Tordesillas”.

Secara ringkas, isi perjanjian ini memuat pembahasan tentang pembagian wilayah jajahan antara Portugis dan Spanyol.

Dicatat oleh MC Ricklefs, dkk, (2013: 166-195) bahwa Portugis berhasil menaklukkan Kerajaan Goa di pesisir barat India pada tahun 1510.

Selanjutnya, dengan mengusung misi “Gold, Glory, and Gospel”, serta hasrat imperialisasi dan perluasan wilayah koloninya, Portugis berupaya menaklukkan Kesultanan Malaka.

Di bawah pimpinan Alfonso de Alberquerque, yang diperkuat 18 kapal tempur dan mengangkut sekitar 1.200 bala tentara, Portugis berhasil menaklukkan Kesultanan Malaka pada Agustus 1511.

Melihat Malaka sebagai momok peradaban Islam di Asia Tenggara telah berhasil dikuasai Portugis, berkat kelihaian Sultan Aceh dalam mencermati perpolitikan internasional, khususnya pascajatuhnya Konstantinopel ke tangan Turki Usmani saat itu, dengan cekatan, ‘sang Deklarator Aceh Darussalam’, Sultan Ali Mughayat Syah, langsung menyusun kebijakan untuk mematahkan agenda imperialisasi Barat di wilayah Asia Tenggara.

Mulanya, ketika Portugis muncul di sekitaran perairan Selat Malaka, Aceh masih merupakan kesultanan kecil yang tunduk pada tentangganya, Kesultanan Pedir.

Pascajatuhnya Malaka, Aceh dijadikan sebagai tempat perdagangan oleh para pedagang muslim.

Melihat kemajuan ini, Sultan Ali Mughayat Syah segera mengusahakan upaya pembangunan agar nantinya Aceh dapat dijadikan pusat perdagangan menggantikan Malaka (Rusdi Sufi, 2006: 9). Upaya pembangunan ini diawali dengan kebijakan peleburan dua kesultanan, yakni Meukuta Alam dan Darul Kamal (di Banda Aceh dan Aceh Besar sekarang), kemudian disatukan menjadi Kesultanan Aceh Darussalam, yang dideklarasikan oleh Sultan Ali Mughayat Syah (TM Ichsan, 2019: 29).

Di awal pemerintahannya, Sultan Ali Mughayat Syah (1514-1530) menyusun beberapa program sebagai landasan, (Mohammad Said, 1981: 169-170).

Pertama, negara tak dapat berdiri jika hanya seluas kota ataupun hanya beberapa ratus kilometer saja.

Dengan ditaklukkannya beberapa negara yang telah dikuasai Portugis, maka Aceh dapat menekan dominasi bangsa Barat di Asia Tenggara, layaknya Turki Usmani di Eropa.

Kedua, walaupun Kesultanan Malaka telah jatuh ke tangan Portugis, tapi Aceh membangkitkan kembali semangat bangsa-bangsa muslim bahwa Aceh sebagai “momok Islam” baru di Asia Tenggara yang dapat mematahkan imperialisme Barat.

Ketiga, untuk menghadapi agresi imperialis barat, maka Aceh perlu membentuk armada perang yang kuat.

Keempat, ekonomi harus diperkuat dan negara harus mengolalanya secara mandiri.

Sultan Ali Mughayat Syah bersama abangnya, Panglima Raja Ibrahim selaku Wazirul Harb Aceh Darussalam, segera menyusun agenda persiapan untuk menyambut serangan pasukan Portugis.

Pada tahun 1519, Portugis mencoba ganggu ketenteraman publik Aceh Darusalam.

Di bawah pimpinan Gaspar de Costa, armada Portugis mendarat di Kuala Aceh.

Dengan cekatan pasukan Aceh, yang berkekuatan tak terlalu banyak, dapat langsung memukul pasukan Portugis.

Dalam pertempuran itu, sebagian besar pasukan Portugis terbunuh dan sisanya, termasuk Panglima Gaspar de Costa, ditawan.

De Costa akhirnya dibebaskan, setelah “ditebus” oleh Nina Cunapam, Laksamana Malaka. 

Hal ini berhasil membuat Alberquerque ‘sang Conquistador’ marah besar.

Pada tahun 1521, dipersiapkan kembali armada perang yang lebih besar dan kuat. Arrmada ini diberangkatkan di bawah pimpinan Panglima Jorge de Brito.



Sumber: aceh.tribunnews.com

Disclaimer: Images, articles or videos that exist on the web sometimes come from various sources of other media. Copyright is fully owned by the source.